GEREJA TORAJA JEMAAT BATAM

Official Website Gereja Toraja Jemaat Batam

Sejarah Gereja Toraja Jemaat Batam

BAB I

PENGANTAR

Segala puji dan syukur patut kita panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Kuasa yang telah memperkenankan segala waktu dan kesempatan untuk kita miliki dan jalani menjadi bagaian terpenting dalam perjalanan pelayanan kita. Hari ini, menjadi kesempatan terindah bagi seluruh rangkaian perjalanan pelayanan ketika kita bisa  melayakkan rumah bagi Tuhan.

Pentahbisan gedung gereja adalah puncak dari semua kembara cinta yang terurai dalam jerih dan juang.Bukan saja antara pelaku sejarah tetapi lebih dari itu antara yang menciptakan sejarah itu sendiri untuk kita maknai secara mendalam, seturut dengan rancangan-Nya atas jemaat-Nya.Buku kecil ini mungkin hanya memuat sebagian kecil dari seluruh kembara cinta yang terurai itu.Namun upaya untuk menorehkan sejumlah lintasan peristiwa dan makna merupakan sebuah asa yang begitu lama terpendam. Kesulitannya adalah proses pengumpulan dan kefalidan data serta penulisan. Itulah kesulitan menulis sejarah. Agar buku ini tidak hanya memuat catatan waktu dan peristiwa serta pelaku, maka, tim menghadirkan beberapa catatan reflektif. Hal ini dimaksudkan agar perjalanan kembara mengukir sejuta makna dalam melayani-Nya, bukan sekedar peristiwa tetapi dapat dimaknai dari berbagai sudut.Buku ini berusaha menghadirkan catatan sejarah pelayanan suka-duka kisah perjalanan jemaat Tuhan di sini.

Ketika buku kecil ini tiba di tangan bapak, Ibu, saudar-saudari, mungkin terdapat kekurangan di sana-sini, khususnya mengenai pelaku peristiwa.Atas kekurangan itu kami mohon maaf dan jika ada masukan yang lebih falid sesuai kaidah ilmiah penulisan sejarah, buku ini dapat direvisi. Tetapi paling tidak, menandai pentahbisan gedung gereja ini dan sesuai harapan Majelis Gereja dalam penugasan ini, maka buku kecil ini hadir di tengah kita dengan segala keterbatasannya. Kendati telah mengalami editing dan koreksi dari tim pembaca yaitu beberapa pihak yang terlibat langsung dan melalui wawancara dari beberapa pihak, baik melalui email, telepon dan langsung, buku ini tidak tertutup untuk tetap menerima koreksi dan masukan.

Menutup kata pengantar ini, saya ingin menceritakan kisah pohon mangga yang sedang berbuah lebat di depan gereja ini.

Alkisah pohon mangga yang ada di depan gereja. Sekarang sedang berbuah lebat.Pohon mangga itu di tanam ketika gereja ini mulai dibangun.Ketika pohon mangga itu berjuang untuk tetap hidup di tengah himpitan bebatuan, kayu-kayu, sisa-sisa semen dan material lainnya, tidak ada yang memperhatikan, apalagi mempersoalkan keberadaannya. Mau mati kek, mau hidup kek, tidak ada yang terlalu memedulikan. Menjelang gereja ini rampung, akhir tahun 2013 menjelang tahun 2014, ketika pohon mangga ini berbunga lebat, pertanda akan berbuah lebat, mulailah ada desas-desus tentang mangga itu. Itu menjadi perbincangan hangat seusai latihan padus, atau ketika kongkow-kongkow bercanda di depan gereja. Ada yang mengklaim menanam pohon itu.Ada banyak versi.Ada yang mengatakan Mama Leo (Yuliana Datik), Pak Pdt. Pakan, ada juga yang mengatakan pak Yuli Toding.Itu tiga versi yang ada.Ada juga yang bilang, mama Leo yang beli bibit, dan pak Pakan yang tanam.Tetapi ada juga yang bilang, memang mama Leo yang bawa bibit, pak Yuli Toding yang tanam. Wah….saya jadi bingung! Tetapi ada informasi yang masuk akal dari mama Indah (Bertha K Jansen). Infonya begini, yang datang bawa bibit mama Leo, yang gali tanah pak Yuli Toding dan yang menanam dan berdoa pak Pakan.Ini yang lebih mungkin dan masuk akal.Berdasaarkan fakta-fakta dan informasi serta logika maka dapt dikatakan bahwa mangga itu ada bukan karena satu orang saja, tetapi oleh berbagai pihak, termasuk koster yang memelihara dan menyiram kalau musim kemarau. Berbuah lebatnya mangga di depan gereja itu tidak lepas dari kerjasama antara mama Leo, pak Yuli Toding dan pak Pdt. Pakan, tetapi yang memberi pertumbuhan adalah Tuhan.

Menulis sejarah gereja Batam ini sama sulitnya menentukan siapa yang sesungguhnya menanam pohon mangga itu. Satu hal yang tidak bisa dibantah tentang pohon mangga itu adalah, buahnya sangat kecut.Saya gak tahu kenapa, apakah ini bahasa simbolis pohon mangga itu kepada kita tentang sejarah perjalanan jemaat kita yang mungkin penuh dengan kekecutan tetapi tetap bersukacita karena ini adalah pekerjaan Tuhan untuk melayakkan rumah bagi-Nya.

Trima kasih untuk semua pihak yang telah membantu penulisan buku ini, khususnya khususnya penulis refleksi yang di sana-sini sedikit banyak telah memperlengkapi penulisan sejarah. Trima kasih  juga dihaturkan kepada rekan-rekan yang telah membantu mengingat dan memberikan data-data, dan mengorekasi draft sebelum hadir di tangan kita saat ini. Tuhan yang empunya Gereja akan terus memperlengkai, meneguhkan dan menguatkan, untuk berjalan terus menapaki jalan Tuhan, jalan kemenangan.

 “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai” (Mzm 126:5)

Salam ,

Tim Buku Sejarah Jemaat

  1. Daud Mairi, ST
  2. Johana R. Tanagirerung, MTh
  3. Marthen Tandirura, ST
  4. Luther Jansen
  5. Satria Omega Manting

BAB II

SEJARAH JEMAAT BATAM

  1. Pendahuluan

Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat Toraja dirantau, menjadi cikal-bakal berdirinya Gereja Toraja. Masyarakat Toraja di Batam mulai ada sejak tahun 1980-an. Hingga tahun 1990-an seiring dengan perkembangan industri di Batam dan sebagai pertemuan pelabuhan dari tiga negara Indonesia, Malaysia dan Singapura, masyarakat Toraja di Batam juga semakin bertambah. Seiring dengan itu disadari kebutuhan pembinaan dan pendampingan bagi masyarakat Toraja khusunya pemuda yang bekerja di Batam sebagai Karyawan dan Pelaut. Ada ide untuk membuat wadah pembinaan dan pelatihan bagi generasi muda. Berawal dari sinilah cikal-bakal Gereja Toraja di Batam.

   Gereja Toraja Jemaat Batam adalah salah satu gereja yang lahir dari tuntutan pelayanan dan pendampingan bagi generasi muda dan masyarakat Toraja. Masyarakat Toraja menjelang tahun 1999 semakin berkembang. Karyawan yang semula bujangan kemudian menikah dan menetap di Batam. Pelaut yang dahulunya hanya numpang lewat di Batam setelah berlayar ke berbagai negara, kemudian membawa serta keluarganya dan menetap di Batam.  Berawal dari komunitas inilah jemaat Batam membentuk dan membangun dinamika persekutuan di Gereja Toraja Jemaat Batam.

   Di mana Injil di beritakan, di sana Allah menyatakan hadirat-Nya. Selalu ada cara Tuhan hadir melalui gereja-Nya, dengan berbagai dinamikanya. Satu hal yang pasti setiap orang yang hendak dipakai-Nya dipilihtNya dan di utus. Ada begitu banyak cerita dan kisah, baik yang menyenangkan, memberi semangat  bahkan tawa dan gelak dalam kentalnya ikatan persaudaraan ketorajaan. Tetapi juga tidak dapat dipungkiri ada tantangan dan pergumulan, di mana kesediahan, bahkan luka-luka pelayanan. Tetapi semua itu menjadi catatan pelayanan perjalanan jemaat Tuhan.

   Berdasarkan kerinduan ini, dan bermula dari ibadah perdana di mess Pelaut, kemudian  secara kelembagaan melalui gereja Toraja  jemaat Jatiwaringin mengusulkan ke Persidangan Klasis menjadi Cabang Kebaktian dan seterusnya menjadi jemaat Batam sesuai prosedural yang berlaku di dalam Gereja Toraja. Sejak saat itulah jemaat ini bertumbuh dalam segala suka-duka dan dinamika sebagai persekutuan umat Tuhan pada setiap konteks dan pergumulannya.

Kini gedung gereja ini telah berdiri megah di atas bukit Tiban III.  Kehadirannya dalam bentuk fisik seolah-olah ingin menggambarkan wujud nyata kehadirannya di Kepulauan Riau, Bumi Lancang Kuning, tanah Melayu di bagian Barat  Indonesia.   Rumah Tongkonan dan Rumah Melayu, itulah penampakan dan simbolisasi kehadiran jemaat ini. Ke-Torajaan dan ke-Kristenan menyatu kuat dengan konteks ke-Melayuan sebagai hibridasiasi ke-Indonesiaan.

Dibalik gedung gereja ini, ada berbagai catatan sejarah terkait dengan waktu dan peristiwa. Juga suka-duka kisah pelayanan. Buku kecil yang ada di tangan Bapak, Ibu, Saudara-saudari ini adalah goresan sejarah dan refleksi. Disebut sejarah karena memuat cikal-bakal, kisah perjalanan dan dinamika jemaat Batam. Agar buku kecil ini tidak saja berisi tanggal, waktu dan peristiwa, sehingga hanya menjadi buku sejarah, maka buku ini juga berusaha kami tampilkan sehidup mungkin dengan berbagai kisah-kisah perjalanan pelayanan setiap anak-anak Tuuhan di dalamnya, sebagai refleksi. Sehingga buku ini tidak saja menjadi catatan sejarah yang tanpa makna tetapi punya seribu satu kisah yang sarat dengan makna. Melalui buku ini Tim ini mengajak kita semua untuk memaknai seluruh catatan sejarah dan kisah-kisah pelayanan dalam bingkai rencana Allah. Setiap orang yang hadir di dalam kisah perjalanan pelayanan ini adalah mitra pelayanan Allah.

Patut dihaturkan terima kasih kepada kelima hambaTuhan yang memulai merambah bumi lancang kuning ini, menggarap, menanam, serta memelihara.Mereka adalah Pdt. Semuel Layuk Allo, Pdt. Robertus Pakan, Pdt. Marlina Pasarrin. Pdt. Daniel Mila Pakau, Pdt. Agustinus L Pabontong dan seorang Proponen Malni F. Matasak.  Dalam semangat kepelayanan Paulus mari kita lanjutkan pekerjaan Tuhan di Bumi Lancang Kuning ini sebagai ladang yang sedang menguning dan siap untuk di tuai.

Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. (6) Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. (7) Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. (8) Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. (9) Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah. (10) Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. (11) Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.1 Korintus 3:5-11

  1. Cikal Bakal[1]

Sekitar akhir tahun 1999 menjelang tahun 2000 demografi orang Toraja di Batam semakin meningkat. Hal ini karena Batam adalah daerah transit bagi sebagain besar pelaut, dalam hal ini pelaut Toraja, dan juga sebagi pusat daerah industri. Ada informasi bahwa sebidang tanah diberikan kepada masyarakat Toraja dari Otorita Batam, dalam hal ini oleh bapak Yusuf Domi, yang saat itu menjabat sebagai Deputi Operasi Otorita Batam dan nota bene adalah orang Toraja. Tanah diberikan kepada masyarakat Toraja Batam, tetapi karena Ikatan Masyarakat Toraja tidak berbadan hukum, maka pengurusannya diberikan kepada Yayasan Tongkonan Bangsa a.n masyarakat toraja, satu yayasan yang terkait dengan Ikatan Masyarakat Toraja (IKKT). Lama berselang setelah tanah tersebut diserahkan kepada pengurus Yayasan, selama itu juga UWTO tidak terbayarkan.Karena UWTO tidak dibayar sejak tahun 1999,akhirnya keluarlah Surat Peringatan ketiga dari pihak Otorita Batam.

Akhir bulan Februari Tahun 2001 Pdt. Semuel Layuk Allo beserta rombongan tiba atas undangan Bpk Jusuf Domi.Kedatangan mereka dalam rangka peninjauan tanah yang diperuntukkan bagi masyarakat Toraja di Batam.Rombongan yang datang dari Jemaat Jatiwaringin Jakarta sbb:

  • – S. Layuk Allo – Pnt. Y.S Dalipang
  • – Daniel Toding –  Ny. Datu Dendang
  • – Marten Batong –  Ibu Dorce Dalipang
  • – Daniel Toding

Setelah pertemuan dengan pak Yusuf Domi, keesokan harinya pertemuan di Mess Pelaut  bersama seluruh anggota IKKT untuk membicarakan keberadaan tanah tersebut. Hal yang dibicarakan adalah keberadaan tanah dan pembayaran UWTO yang menunggak. Disepakati waktu itu membayar sejumlah kewajiban yang dimaksud, dan terkumpullah dana dari semua masyarakat IKKT Batam yang hadir pada saat itu.[2]

Pada malam harinya dilanjutkan di rumah kel. Bpk. Luther Jansen, dihadiri oleh majelis gereja Toraja Jemaat Jatiwaringin, yang hadir dari Batam:

– Bpk. Luther Jansen                  – Ibu Hoslinda Tayo

– Bpk. Marthen Tandirura          – Ibu Bertha Kapang

– Bpk. Marthen Seneng              – Ibu Alfrida Toding

– Bpk. Marthen Tato                  – Ibu Yorie Parura

– Bpk. Cius Rita                          – Ibu Yuliana Datik

– Ibu Agustina Lebang

Awalnya, ide dasarnya adalah untuk menyediakan tempat bagi masyarakat Toraja agar diperlengkapi sebelum berangkat ke luar negeri sebagai tenaga kerja.Tetapi kemudian berkembang lagi yaitu agar mereka juga disertai dengan pendampingan rohani.[3]

Dalam kunjungan itu, khususnya pertemuan pada malam hari di rumah Bpk. Luther Jansen, terbersit keinginan untuk mendirikan Gereja Toraja diBatam. Ide itu disambut baik meskipun ada yang tidak memberi respon.Tetapi sejak saat itu, dilakukan upaya untuk mewujudkan harapan tersebut.

Agar rencana tersebut dapat terlaksana dan dalam mempercepat komunikasi-komunikasi terkait dengan itu, maka IKKT membentuk  tim yang disebut Karetaker pada tanggal 25 Februari 2001. Susunan karetaker itu adalah,Ketua : Bpk Marten S. Parura, Sekretaris : Bpk Marthen Tandirura dan Bendahara : Bpk Cius Rita.[4]Tugas karetaker adalah mempersiapkan segala sesuatu untuk kebutuhan menjadi cabang kebaktian.Diantaranya, melakukan berbagai pendekatankepada orang Toraja untuk berdirinya Gereja Toraja di Batam.Tim ini mendata, mendatangi dan mendaftar mereka jika ingin menjadi anggota.Tim ini juga yang mengatur dan mempersiapkan ibadah.

Ketika dirasakan bahwa keanggotaan telah mencukupi, dan beberapa hal lainnya telah dipersiapkan, maka pada tanggal 1 Juli 2001 dilaksanakan kebaktian perdana yang dilayani oleh Gereja Toraja Jemaat Jatiwaringin, padapukul 10.00 WIB yang dipimpin oleh Bapak Pdt. Samuel Layuk Allo, STh yang bertempat di Mess Pelaut Toraja Batam-Singapore di Tiban III Blok D1 No. 8.Dalam Ibadah tersebut di disampaikan keinginan Majelis Gereja Toraja Jemaat Jatiwaringin untuk menjadikan Batam sebagai cabang kebaktian.

Sejak saat itu,  belum ada majelis gereja yang dapat melayani sebagai pembwa Firman, sementara itu tugas pelayanan harus berjalan terus. Pelayanan seperti perkunjungan, adminsitrasi mungkin dapat dilakukan oleh caretaker yang dibentuk, tetapi pelayan Firman pada tiap hari Minggu menjadi persoalan tersendiri. Oleh sebab itu mereka meminta bantuan pelayananan beberapa pendeta dari denominasi lain. Terkait dengan pelayanan Firman majelis gereja meminta bantuan pelayanan kepada Pdt. Alex Bollo, STh (KIBAID), Pdt.Marthin Maury (GKII), Bapak Ir. Marthen Tato (GPIB), Sdri Rina Paulus (GPIB).[5]

Melihat hal ini dan tentu saja memang menjadi ketentuan wajib bagi sebuah gereja untuk memiliki pelayan tetap yaitu majelis gereja setempat, maka tim kembali mendatangi tiap-tiap keluarga untuk mengajak beberapa orang untuk menjadi Majelis gereja. Sedihnya,  sebagian besar menolak ajakan tersebut. Di situlah kadang saya merasa sedih, kata Karetaker.Ketika sudah berada di puncak frustasi, karena setiap orang yang diajak menolak, karetaker menengadah dan berserah sepenuhnya.

Menariknya adalah ketika karetaker sudah berada pada titik kulminasi frustasi yaitu malam sebelum pelaksanaan pembinaan, dan tim dari Jatiwaringin telah tiba, maka berderinglah handphone bapak Marthen Tandirura selaku sekretaris Karetaker. Orang-orang yang dihubungi dan menolak untuk menjadi majleis, satu persatu menelpon dan menyatakan kesediaan.Mereka yang awalnya menolak akhirnya meminta untuk melayani Tuhan menjadi Majelis Gereja.Ini menjadi suka cita dan catatan tersendiri.Dan yang terlebih penting menjadi kesaksian tersendiri bahwa kekuatan dari karetaker atau dari manapun tidak cukup menjangkau pekerjaan Tuhan.Ada tangan Tuhan yang terus bekerja dalam pekerjaan pelayanan-Nya.Hanya saja diperlukan kesadaran dan keberserahan kepada Tuhan.Tuhan  terus bekerja. Terdaftarlah sejumlah nama yang bersedia menjadi majelis dan keesokan harinya diadakan pembinaan sebelum diteguhkan. Pembinaan diadakan tanggal 25 Agustus di Hotel Melia Panorama.  Menariknya, dalam peneguhan majelis gereja pertama tersebut ada seorang sarjana teologi, yang ternyata adalah istri dari salah seorang pelaut.[6]

Pada tanggal 26 Agustus 2001 dilakukan peneguhan Majleis Gereja pertama dan pembaptisan pertama.[7]Menurut standar penulisan Sejarah Gereja, pembaptisan pertama menjadi tanggal berdirinya gereja yang bersangkutan.[8]

  1. Pelembagaan dan Organisasi

Setelah sekian lama jatiwaringin mendampingi dan mempersiapkan cabang ini, maka dirasa perlu untuk menyampaikan ke sidang klasis agar ditetapkan oleh Klasis sebagai Cabang Kebaktian.

 

  1. Penetapan Cabang Kebaktian dan Jemaat Batam

Berdasarkan  usulan dan laporan dari jemaaatJatiwaringin  tentang Cabang Kebaktian Batam di Sidang Klasis X di Lembang Bandung, maka persidangan menetapkan Batam menjadi Cabang Kebaktian Jatiwaringin. Pada saat itu Jatiwaringin mendatangkan beberapa utusan dari Batam yaitu: Pnt.Marthen Senneng, Pnt. Marthen Tandirura dan Ester Suzanda Boli mewakili OIG.

Pada Persidangan Klasis XI tanggal 3-5 Juni 2004 di Hotel Griya Astuti,Cisarua menunjuk Tim Visitasi untuk memvisitasi keberadaan Cabang Kebaktian Batam. Tim ini melaporkan hasil visitasinya pada Rapat Kerja pada tanggal 1 – 2 Maret 2005 di Hotel Johar dan atas nama persidangan menetapkan Cabang Kebaktian Batam menjadi Jemaat Batam, dengan Surat Keputusan No.144/BPK-PG/GT/III/2005.

 

  1. Hal-hal Pertama yang Terjadi dalam Jemaat

Hal pertama selalu merupakan sesuatu yang istimewa.Di bawah ini diuraikan hal-hal pertama yang terjadi di Jemaat Batam.

  • Peneguhan Majelis I: 26 Agustus 2001, di Jamsostek.

Pelayan       : Pdt. Samuel Layuk Allo

Majelis Gereja Pertama yang diteguhkan adalah :

  1. Agustina Lebang
  2. Alfrida Dani
  3. Bertha Kapang
  4. Bertha Duma’
  5. Cius Rita
  6. Daria Bannepadang
  7. Darius Banga’ Datu
  8. Hoslinda Tayo
  9. Jhonly
  10. Luther Jansen
  11. Marthen Seneng Parura
  12. Marthen Tandirura
  13. Marthen Luther Pongmasangka
  14. Marlina Pasarrin, STh
  15. Ruben Cipta Pali
  16. Sakeus S. Lambanan
  17. Syukur Tandiallo
  18. Yance Tiku
  19. Yorie Parura
  20. Yohanis Sampe Kendek
  21. Yohanis Tandipayuk
  22. Yohanis Lebang
  23. Yohanis Senga Saludung
  24. Yuliana Datik

Enam bulan kemudian karena dirasakan majelis gereja masih kurang, maka ditambah 6 orang lagi majelis :

  1. Budi Mardianto
  2. Pither Palele
  3. Nelly Tandibau
  4. Martina Mendaun
  5. Yosepine Allo Bua’
  6. Elisabet Boropadang
    Pelayanan
  • Baptis pertama (dewasa): Sundari, Tri, dan adiknya (tidak tahu namanya).
  • Ketua Majelis I : Marthen Senneng.
  • Ketua BPM I: Pdt. Robert Pakan
  • Badan Verifikasi Pertama:
               Ketua        : Pnt. Yori Parura
               Wkl Ketua : Pnt. Johnly
              Sekretaris  : Martina Lamba Massa’
               Anggota     : Yosepina A. Paranduk
  • Pemberkatan nikah pertama: Luther Paranduk dan Yosepina Allo Bua, 15 Desembern2001 di Sijori Resort, dipimpin Pdt Semuel Layuk Allo.
  • KRT Pertama di rumah Cius Rita, 6-9-2001 dipimpin oleh Bpk Marten Tato,
  • Kebaktian PKB pertama di rumah bpk. Yohanis Tandipayuk
  • Perjamuan Kudus dan sidi pertama, 28 Oktober 2001, dipimpin oleh Pdt.  Simon Toyang Todingallo.
  • Pendeta Cabang Kebaktian Pertama : Pdt. Semuel L. Allo
  • Pendeta Jemaat Pertama: Robertus Pakan, STh
  • Proponen pertama : Marlina Pasarrin, STh
  • Panitia pembangunan I:
            Ketua         : Pnt. Luther Jansen
            Sekretaris  : Sym. Johnly
            Bendahara : Agustina Lebang

 

Ketua OIG pertama:

  1. SMGT :

Ketua            : Daria Banne Padang

Sekretaris     : Asri Parung

Bendahara   : Ester Susanda Boli’

  1. PPGT :

Ketua            : Daud Mairi

Sekretaris     : Matius Rombe Toding

Bendahara   : Agustina Massa

  1. PWGT :

Ketua            : Agustina Lebang

Sekretaris     : Yorie Parura

Bendahara   : Alfrida Dani

  1. PKBGT:

Ketua            : Sakeus S. Lambanan

Sekretaris     : Johnly

Bendahara   : Yohanis Sampekendek

 

Periodesasi Majelis Jemaat

  1. Periode kedua tahun 2004-2007

Tahun 2001 – 2002

Ketua Majelis : Pnt. Marten Seneng Parura

Sekretaris : Pnt. Mathen Tandirura

Bendahara : Pnt. Cius Rita

Tahun 2002 – 2004

Ketua Umum                                   : Pdt. Robertus

Ketua I (Persekutuan/PWG)            : Pnt. Marthen S. Parura

Ketua II (Kesaksian dan PI)              : Sym Hoslinda Tayo

Ketua III (Pelayanan dan Diakonia) : Pnt. Luther Jansen

Sekretaris Umum                            : Pnt Marthen Tandirura

Wakil Sekretaris                              : Pnt. Johnly

Bendahara                                       : Sym Bertha K. Jansen

  1. Urusan Ibadah

Pnt. Yance Tiku

Pnt. Yuliana Datik

Pnt. Elisabet Bato’ Tampak

     2. Urusan Pembinaan

Sym. Agustina L. Malino

Sym. Yohanis S. Saludung

Pnt. Bertha Duma

    3. Urusan Diakonia

Pnt. Yohanis Lebang

Pnt. Alfrida Toding

     4. Urusan Pembangunan

Sym. Yohanis tandipayuk

Pnt. Sakeus Lambanan

Pnt. Syukur Tandiallo

Pnt. Pither Palele

     5. Urusan Dana

Sym. Marthen L. Pongmasangka

Pnt. Budi Mardyanto

Sym Ruben Cipta Pali’

 

Badan Verifikasi Jemaat

Ketua                  : Pnt. Yorie Parura

Wakil Ketua       : Sym. Marthen L. Pongmasangka

Sekretaris           : Pnt. Martina Mendaun

Anggota             : Pnt. Ypsephina Allobua’

 

Koordinator dan Bendahara Kelompok ;

  1. Kelompok Sektor Tiban

Koordinator : Pnt. Alfrida Toding

Bendahara : Pnt. Yuliana Datik Simbolon

  1. Kelompok Sektor Batam Center dan Baloi

Koordinator : Pnt. Sakeus S Lambanan

Bendahara : Pnt. Nelly Duallo

  1. Kelompok / Sektor Bengkong

Koordinator : Pnt. Pither Palele

Bendahara : Sym. Agustina Lebang

  1. Kelompok/Sektor Batuaji

Koordinator : Pnt. Yohanis Lebang

Bendahara : Pnt. Yance Tiku

 

  1. Periode kedua tahun 2004-2007

Ketua Umum          : Pdt. Robertus Pakan, STh (2004-2005)

Ketua Umum          : Pdt. Marlina Pasarrin, STh (2006 – 2007).

Ketua I                    : Pdt. Marlina Pasarrin, STh

Ketua II                   : Pnt. Marten S. Parura

Ketua III                  : Pnt. Luther Jansen

Sekretaris Umum   : Pnt. Sakeus S. Lambanan

Wakil Sekretaris     : Pnt. Pither Palele

Bendahara              : Sym. Bertha K. Jansen

 

  • Urusan Ibadah ;

Pnt. Yance Tiku (Koordinator)

Pnt. Yuliana Datik

Pnt. Dathan Tandilintin

Pnt. Margareta Ramma

Pnt. Eva Away Palele

 

  • Urusan Pembinaan :

Sym. Hoslinda Tayo (Koordinator)

Pnt. Yorie Parura

Sym. Marthina Mendaun

Pnt. Naomi Alun Tandi

Pnt. Lamtiur Pasaribu

 

  • Urusan Diakonia / Tamu :

Pnt. Erwin Tjamme (Koordinator)

Pnt. Karyawan Tikupadang

Sym. Berthy Parung

Sym. Johnly

 

  • Urusan Pembangunan :

Pnt. Pither Lebang (Koordinator)

Sym. Yohanis Tandipayuk

Pnt. Edi Rende Pongtiku

Sym Yohanis Lebang

Pnt. Syukur Tandiallo

Pnt. Daud Mairi

 

  • Urusan OIG :

Pnt. Agustina Massa (Koordinator)

Pnt. Santi Paranna’

Sym. Rahel Paonganan

Pnt. Corry Mairi

 

  • Urusan Dana :

Sym. Agustina Lebang (Koordinator)

Sym. Herlina Bumbungan    Sym. Alfrida Dani

Pnt. Ester Rita                      Sym. Medi Marthen Duma

Sym. Yohanis S. Saludung   Pnt. Elisabet Boropadang

 

Badan Verifikasi Jemaat :

Ketua                  : Pnt. Yohanis Sampe Kendek

Sekretaris           : Pnt. Daud Tammu

Anggota             : Pnt. Adolpina Lewa

Pnt. Budi Mardiyanto

Sym. Mathius Rombe Toding

Koordinator dan Bendahara Sektor :

Kelompok / Sektor Tiban :

Koordinator     : Pnt. Edi R. Pongtiku

Bendahara      : Sym. Rahel Paonganan

Kelompok / Sektor Batam Center & Baloi

Koordinator     : Pnt. Sakeus L. Lambanan

Bendahara      : Pnt. Margaretha Ramma’

Kelompok / Sektor Bengkong :

Koordinator     : Sym. Eva Away

Bendahara      : Pnt. Naomi Alun Tandi

Kelompok / Sektor Batuaji :

Koordinator     : Pnt. Erwin Tjamme

Bendahara      : Pnt. Santi Paranna’

  1. Periode ketiga tahun 2007-2010

Ketua Umum                                      : Pdt. Daniel Mila Pakau, STh

Ketua I (Ibadah dan Pembinaan)        : Pdt. Marlina Pasarrin, STh

Ketua II (Kategorial dan Ketenagaan) : Pnt. Yohanis S. Kendek

Ketu III (Dana dan Pembangunan)     :Pnt. Luther Jansen

Sekretaris Umum                               : Pnt. Sakeus S. Lambanan

Wakil Sekretaris                                 : Pnt. Yorie Parura

Bendahara                                          : Pnt. Bertha Kapang

Wakil Bendahara                                : Sym. Hoslinda Tayo

 

Bidang Ibadah :                                      Bidang Dana :

  1. Eva Away                                  1.  Pnt. Edi R. Pongtiku
  2. Agustina Massa                        2.  Pnt. Yulius Bokko
  3. Dathan T. Rannuan                  3.  Pnt. Yuli Toding
  4. Bertha Duma Bolling                 4.   Pnt. Yance Tiku
  5. Yakob Misalayuk

Bidang Pembinaan :                              Bidang Pembangunan :

  1. Sym. Agustina Lebang              1.   Sym. Jhonly
  2. Pnt. Margaretha Ramma’          2.   Sym. Tony Tulak
  3. Pnt. Corry Mairi                         3.   Sym. Daniel Tanga

Bidang Kategorial :                                Bidang Tamu :

  1. Markus Patongan                      1.   Sym Nitha Andilolo
  2. Santy Paranna                          2.   Pnt. Karyawan Tikupad
  3. Albertin Pirade                          3.   Pnt. Yuliana Datik

Bidang Ketenagaan :                             Bidang Diakonia :

  1. Matius R. Toding                       1.   Sym. Nelly Tandibau’
  2. Pither Palele                             2.   Pnt. Lamtiur Passaribu
  3. Alfrida D. Toding                       3.   Sym. Yohanis S. Saludung

Koordinator Sektor :

  1. Tiban : Sym. Rahel Paonganan
  2. Batuaji :  Ester B. Tandirura
  3. Bengkong : Pnt. Naomi Alun Tandi
  4. Baloi : Sym. Martina Mendaun
  5. Batam Center : Sym. Herlina B. Marthen

Badan Verifikasi Jemaat :

Ketua                  : Pnt. David Dwi Harijadi

Sekretaris           : Pnt. Adolfina Lewa

Anggota             : Pnt. Daud Tammu

: Sdr. Yustin Parimba

: Yuliana T. Patongan

: Sdri Tasya

Tim Perencana Pengembangan Program (TP3) :

Ketua               : Pnt. Marthen S. Parura

Sekretaris        : Pnt. Daud Mairi

Anggota          : Marthen Tandirura, ST

: David Pirade, ST

: Ir. Moning Ape

: Pnt. Albert Pongmasak

 

  1. Periode keempat tahun 2010-2013

Ketua Umum                         : Pdt. Agustinus L. Pabontong

Ketua I (Persekutuan/PI)       : Pdt. Daniel Mila Pakau, STh

Ketua II (PWG / OIKUMENE) : Pnt. Budi Mardianto

Ketua III (Dana dan Daya)     : Pnt. Luther Jansen

Sekretaris                              : Pnt. Yohanis Sampe Kendek

Wakil Sekretaris                    : Pnt. Markus Patongan

Bendahara                             : Dkn. Bertha Kapang

Wakil Bendahara                   : Dkn. Christina Z. Rabungan

 

KOMISI-KOMISI :

A.    Ibadah / Persekutuan:

1.     Pnt. Eva Away

2.     Pnt. Agustina Massa

3.     Pnt. Ester Susanda

4.     Pnt. Suryani P. Pakau

 

B.    Liturgi dan Musik Gerejawi :

1.     Pnt. Santy P. Rapa

2.     Pnt. B. Faber Silitonga

3.     Pnt. Albertin M. Kondorura

 

C.     PI dan Diakonia :

1.     Dkn. Nelly Duallo

2.     Dk. Yuliana Datik

4.     Dkn. Hermiati R

 

D.    Pembinaan :

1.     Pnt. Agustina Lebang

2.     Pnt. Margareta Ramma’

3.     Pnt. Mathius Rombe Toding

 

E.     Kategorial :

1.     Pnt. Daud Mairi

2.     Pnt. Maria B. Kombongan

3.     Pnt. Pither Ramba

 

F.     Oikumenis & Kemasyarakatan :

1.     Dkn.  Martina Mendaun

2.     Pnt. Yorie Parura

3.     Pnt. Yohanis Senga’ Saludung

 

G.    Sarana dan Prasarana :

1.     Pnt. Pither Palele

2.     Dkn. Hatija Massolo’

3.     Pnt. Lamtiur Lapu’

 

H.    Pembangunan

1.     Dkn. Johnly

2.     Dkn. Yohanis Lapu’

3.     Dkn. Hoslinda Tayo

 

I.      Kerumahtanggaan :

1.     Pnt. Albertin P. Sampe

2.     Dkn. Nitha Andilolo

3.     Dkn. Yulius S. Tandirerung

 

 

 

 

KOORDINATOR SEKTOR :

  1. Tiban : Rahel Paonganan
  2. Batuaji : Berty Laiya
  3. Bengkong/Baloi : Sakeus L. Lambanan
  4. Batam Center : Herlina B. Marthen

BADAN VERIFIKASI JEMAAT :

  1. Ketua : Adolfina Lewa
  2. Sekretaris : Daud Palidan
  3. Anggota : Ny. Yuliana Rita Patongan,SE

: Marhaenis Lambe, SE

: Ester Rita Bite,SE

: Daud Tammu, ST

Tim perencana program Pengembangan (TP3):

  1. Ketua : Marthen Tandirura
  2. Sekretaris : Satria Manting
  3. Anggota : Mezak Yapin

: Daniel Bato’ Tampak, ST

 

 

  1. Periode keenam tahun 2014-2017

Ketua Umum                 : Pdt. Agustinus L. Pabontong

Ketua I                            : Pnt Eva Barbalina Away

Ketua II                           : Pnt. Daud Mairi

Ketua III                          : Pnt. Luther Jansen

Sekretaris                       : Pnt. Mezak Yapin

Wakil Sekretaris            : Pnt. Marthen Tandiruran

Bendahara                     : Pnt. Bertha Kapang

Wakil Bendahara           : Pnt. Hera Kallo

 

BIDANG I : PELAYANAN DAN KESAKSIAN:

Komisi pelayanan dan Kerohanian :

  1. Damaris Sapan, STh
  2. Corry Mairi
  3. Sobon Paleleng
  4. Hermiati Ranteallang

 

Komisi Liturgi dan Musik Gerejawi ;

  1. Nital Paran
  2. Kristin Zeth Rima
  3. Dina Limbong
  4. Suanti Lamtiur

 

Komisi Pekabaran Injil dan Diakonia ;

  1. Yuliana Datik
  2. Nitha Andilolo
  3. Elsa Batara

 

BIDANG II : PEMBINAAN WARGA GEREJA DAN OIKUMENIS

Komisi Pembinaan :

  1. Daud Palidan
  2. Antonius Tandi Bongga
  3. Matius Rombe Toding

 

Komisi OIG :

  1. Pither Ramba
  2. Anastasia Lince Giri
  3. Milka Manggu
  4. Yustina Pasudi

 

Komisi Oikumenis dan Kemasyarakatan :

  1. Sakeus S. Lambnan
  2. Lamtiur Pasaribu
  3. Agustina Tampang

 

BIDANG III : DANA DAN DAYA

Komisi Pembangunan :

  1. Johnly
  2. Elvi Paonganan
  3. Pangihutan B.Z. Simbolon

 

Komisi Sarana, Prasarana & Perbaikan:

  1. Asril Bando
  2. Medi Marten Duma
  3. Onna Dalipang

 

Komisi Kerumah Tanggaan :

  1. Ester Suzanda Boli
  2. Desiana Pakonglean
  3. Seoctaviannie Arma Daud
  4. Rosdiana Pareang
  5. Nelvianti Rontak

 

BADAN VERIFIKASI JEMAAT :

Ketua                  : Pnt. Pither Palele

Sekretaris           : Pnt. Yorie Parura

Anggota             : Pnt. Yulius Baka

: Pnt. Marhaenis Lambe

: Dkn. Martina Mendaun

TP 3 :

Ketua                  : Pnt. Satria omega Manting

Anggota             : Pnt. Yakob Misalayuk Matta

: Dkn. Berty Laiya

 

Koordinator Sektor :

Sektor TBBC       :  Pnt. Rahel Paonganan

Sektor Batuaji    : Pnt. Selle Palloan

 

  1. Dinamika dan Pertumbuhan Jemaat

Perjalanan hidup selalu diwarnai oleh suka dan duka.Persekutuan di mana pun, di gereja sekalipun juga selalu diwarnai oleh berbagai pergumulan. Gereja terdiri dari sejumlah pribadi, keluarga, kelompok dan golongan, maka ia juga tidak luput dari persoalan. Tetapi baiklah itu kita lihat sebagai dinamika.Dinamika itu sendiri adalah suatu proses.  Kedinamisannya tergantung sejauh mana pergumulan dan tantangan  itu direspons dengan positif.

Jika ada dinamika, maka dapat dipastikan bahwa gereja tersebut bertumbuh.Asal saja diarahkan ke arah yang lebih positif. Kendatipun penampakannya negative, lalu ditanggapi juga secara negative, namun pada akhirnya berharap dapat direfleksikan sebagai sesuatu yang diijinkan Tuhan terjadi untuk membentuk setiap umat yang terlibat di dalamnya. Bagian ini akan menguraikan dinamika-dinamika yang terjadi dan membentuk jemaat lebih dewasa.

Agar terekam dan terstruktur dengan baik dinamika tersebut , maka penyususnannya akan dibagi ke dalam periodesasi kemajelisan. Di sana akan diuraikan beberapa dinamika yang berkembang selama periode-periode kemajelisan tersebut.

 

Periode 2001-2004

Periode ini boleh dikatakan masa yang sangat berat karena pada periode inilah cikal bakal berdirinya Gereja Toraja Cabang Kebaktian Batam. Memulai sesuatu yang baru bukan perkara mudah, apalagi dalam segala keterbatasan usia, pengalaman khususnya dalam bidang organisasi kegerejaan dan pengalaman bergereja. Ditambah lagi dengan karakteristik batam sebagai daerah transit, yang punya tantangan dan pergumulannya tersendiri.

Tantangan yang pertama adalah bagaimana berjuang dan bergumul mengumpulkan sejumlah masyarakat Toraja, merupakan pekerjaan yang luar biasa berat. Disebut demikian karena ide untuk mendirikan jemaat  mendapat tantangan dan kalau boleh dikatakan mendapat penolakan dari beberapa orang. Karena sebagaian besar telah menjadi anggota jemaat di gereja lain seperti di GPIB, KIBAID, dll. Lebih dari itu menjadi berat karena mengajak keluar dari zona nyaman di jemaat yang sudah mapan, masuk ke dalam situasi baru, tantangan baru dan persoalan baru. Tantangan yang lain dan yanag tidak kalah beratnya adalah soal pemberkatan nikah. Beberapa kasus yang terjadi adalah pemberkatan nikah yang bermasalah ditunda atau gagal karena yang bersangkutan masih terkait dengan pihak lain. Ada yang mengaku belum beristri atau sebaliknya, tetapi nyatanya telah beristri atau bersuami. Tantangan lain adalah pendampingan terhadap generasi muda yang direkrut langsung dari Toraja atas kerja sama antara gereja, Pemda Toraja dan  beberapa perusahaan pada tahun 2003 sampai 2004. Jumlah rekrutan paling banyak terjadi pada tahun 2004 mencapai 600 orang. Tenaga rekrutan ini masih terus berlangsung hingga saat ini. Mereka tersebar di sejumlah perusahaan dan tinggal di dormitory yaitu semacam asrama yang disediakan perusahaan dan di beberapa tempat-tempat kost dan kontrakan. Tantangan pelayanan kepada generasi muda ini menjadi tantangan tersendiri, ketika mereka tiba di Batam yang notabene adalah kota transit dengan segala hal yang ditawarkan.

Namun iman sebiji sesawi yang disebut oleh pak Dalipang dalam bahasa lain dalam refleksinya, “memindahkan gunung”, pada akhirnya dapat terlihat. Karetaker yang dibentuk dan kerjasama dengan semua pihak pada akhirnya dapat mengumpulkan sejumlah anggota dan bahkan membentuk majelis gereja. Dari sejumlah mejelis yang diteguhkan, hanya dua tiga orang yang dapat berkhotbah seperti pak Marthen Seneng Parura, pak Sakeus S. Lambanan, pak Yance Tiku, maka pelayanan selanjutnya terkait dengan pemberitaan Firman khususnya pada ibadah hari Minggu, dibantu oleh beberapa pendeta dari denominasi lain. Sementara sakramen Perjamuan dan Baptisan Kudus serta pernikahan, meminta pelayanan dari jemaat induk, yaitu Jatiwaringin atau pendeta se-Klasis Pulau Jawa.

Sesudah peneguhan Majelis Gereja, mulai disadari bahwa dibutuhkan pelayan tetap yang akan mendampingi jemaaat ini siang dan malam dalam membangun dan membina jemaat. Berdasarkan komunikasi dengan jemaat induk maka, Pdt. Robertus Pakan diutus untuk menjadi pendeta di Cabang Kebaktian Batam, setahun kemudian yaitu pada tanggal 11 Agustus 2002. Peneguhan dilakukan oleh Badan Pekerja Sinode, yang dalam hal ini Bpk. Pdt. Soleman Batti, MTh. Periode ini penuh dengan tantangan karena keterbatasan Sumber Daya gerejawi yang paham betul akan seluk-beluk pelayanan dan aturan-aturan gereja. Jangankan pelayanan OIG yaitu Sekolah Minggu, Pemuda, dan PWGT, pelayanan di sekitar jemaat secara umum masih sangat terbatas, khususnya dalam hal pemberitaan Firman.

Bersyukur, bahawa di dalam kemajelisan disadari peran salah seorang sarjana teologi yang ada dalam jemaat waktu itu dalam membantu mengangkat pelayanan. Khususnya ketika Pdt. Robertus N Pakan belum di utus ke Batam. Hal itu telah digumuli kehadirannya, sehingga majelis meminta kepada Sinode melalui prosedur yang berlaku untuk diproponenkan karena suaminya menetap di Batam sebagai Pelaut. Maka tidak lama berselang sesudah Pdt. Robertus N Pakan diteguhkan, maka pada tanggal 3 Nopember 2002 Ibu Marlina Pasarrin, STh di utus untuk menjadi proponen, di Mess Pelaut. Kurang lebih 2 tahun kemudian Ibu Proponen Marlina Pasarrin diurapi menjadi Pendeta pada tanggal 19 Februari 2005 oleh Pdt. D.P Sumbung.

Memulai sesuatu yang baru memang tidaklah mudah. Itulah tantangan yang dihadapi Bpk. Pdt. Robertus Pakan dan proponen Marlina Pasarrin. Selain pergumulan tempat atau lahan, menata administrasi gereja, menata pelayanan dan terus berupaya membangun persekutuan jemaat dalam segala keterbatasan memang merupakan tantangan tersendiri bagi seorang pendeta. Namun syukurlah dengan keteguhan hati serta  kerjasama yang baik dengan Proponen, Penatua dan Syamas (sekarang diaken) dan tentu saja – ini yang tidak boleh terlupakan –  tuntunan Tuhan sendiri, maka perlahan -lahan persekutuan ini dapat terus berjalan.

Seiring dengan waktu, Mess Pelaut yang ada di Tiban  sudah tidak mampu menampung sekian banyaknya jemaaat yang bertambah dari waktu ke waktu untuk ibadah Minggu. Sementara keberadaan lokasi yang meskipun telah disepakati bersama oleh seluruh unsur di dalam IKKT, untuk diserahkan ke Gereja Toraja pembangunan gedung Serba Guna dan penggunaannya untuk tempat beribadah bagi Gereja Toraja, namun kemudian disadari jika masih ada kemungkinan mendapatkan lokasi, akan lebih baik. Apalagi ketika itu kita berhadapan lagi dengan persoalan Ruli (rumah liar). Lokasi itu ditempati oleh kurang lebih 16 rumah liar, yang keberadaannya sulit karena tidak mau pindah dari lokasi itu.Kasarnya mereka menempati paksa dan tidak mau tahu bahwa lahan itu bukan milik pribadi mereka. Ditambah lagi harus membayar UWTO. Melihat kondisi tersebut, maka majelis menyepakati untuk mencari tempat beribadah yang dapat menampung jemaat yang sudah sekian banyak itu. Akhirnya gedung gereja GKPS di Sei Panas menjadi tempat beribadah, sementara majelis memikirkan dan mengupayakan pengadaan lokasi gereja.

Ada refleksi menarik dalam upaya mencari tempat ibadah sementara, sampai menemukan gedung GKPS. Ketika itu diharapkan tempatnya tidak jauh dari Tiban di mana sebagian besar anggota jemaat berada.Namun semua gedung gereja di sekitar Tiban tidak memungkinkan. Ketika Pak Marthen Tandirura dan Pak Marthen Seneng mengurus sesuatu di sekitar Batam Centre tepatnya di Sei Panas dan melintasi gedung gereja GKPS, maka terlintaslah pikiran mereka bahwa siapa tahu pihak GKPS mau meminjamkan gedung gereja mereka. Dan ternyata setelah menemui pengurus dan majelis GKPS, mereka menyetujui permohonan tersebut. Sekali lagi, ketika tangan manusia tak mampu menjangkau, ketika itu tangan Tuhan terus bekerja! Ibadah di GKPS itu berlangsung kurang lebih 2-3 tahun, dari tanggal 05  Mei 2003 – 12 Juni 2005.

Berdasarkan pemikiran itu majelis gereja pada bulan Januari 2003 membentuk Panitia Pembangunan, yang diketuai oleh bapak Luther Jansen.[9] Panitia ini bersama dengan tim yang dibentuk tanpa SK untuk membantu panitia mencari kemungkinan lahan  lain khusus untuk pembangunan Gereja Toraja Batam. Panitia dan tim mulai berkomunikasi dengan pihak Otorita dan juga dengan jemaat induk dalam mencari lokasi.

Sebagai jemaat induk, Jatiwaringin  tetap bertanggungjawab mendampingi sampai Batam bisa menjadi jemaat dewasa. Pergumulan agar memiliki lahan sendiri yang diperuntukkan bagi gedung gereja Toraja Jemaat Batam kelak, terus mewarani perjalanan persekutuan. Karena komunikasi dan kedekatan yang terus terjain dengan Bapak Yusuf Domi, maka atas petunjuk beliau agar Majelis Gereja Toraja jemaat Jatiwaringin cabang kebaktian Batam, mengajukan surat permohonan pengadaan lahan. Maka Majelis gereja Jatiwaringin tiba di Batam yaitu Laksma (Purn) Benyamin Bura dan Samuel Parantean. Bersama dengan majelis gereja  cabang Kebaktian Batam dan Panita pembangunan berjumpa dengan Bapak Benyamin Baluk, yang menggantikan posisi bapak Yusuf Domi. Bapak Benyamin Baluk ini adalah kawan satu angkatan dengan bapak Benyamin Bura. Sementara itu pak Yusuf Domi masih punya relasi yang baik sebagai  mantan Deputi Operasi dengan penggantinya, maka berdasarkan surat pengantar dari pak Yusuf Domi, semakin terbukalah jalan. Berdasarkan semua itu, pak Benyamin Bura, Samuel Parantean, Pdt. Robertus N Pakan dan Marthen Tandirura pergi menghadap pak Benyamin Baluk.  Dipanggillah direktur lahan oleh pak Baluk menanyakan lahan yang masih ada, akhirnya disetujui tanah  seluas 2,000 m2 diberikan khusus kepada Gereja Toraja Jatiwaringin cabang kebaktian Batam yang berlokasi di Tanjung Uncang, sekitar Batu Aji.

Satu hal menarik adalah, lokasi yang diperuntukkan bagi Gereja Toraja Jatiwaringin cabang Kebaktian Batam waktu itu adalah sekitar Batu Aji yaitu di Tanjung Uncang. Terbersit keinginan, seandainya tanah itu di sekitar Tiban. Hal yang tidak terduga dan di luar jangkauan pemikiran ialah, ketika keluar denah lokasi yang menunjukkan lokasi tanah di Tanjung Uncang, maka tim dan panitia menanyakan kemungkinan lokasi alternatif.  Pegawai Otorita  bernama Reza mengatakan bahwa ada lokasi kosong seluas 2,000 m2, dan ternyata lokasi itu di Tiban III, di atas sebuah bukit tepat berdekatan dengan Mess Pelaut di Tiban III, di mana ibadah perdana dimulai. Tim dan Panitia disarankan untuk mengurus di lantai lima di bagian utility, berjumpa dengan pak Horman Pudinaung, yang nota bene adalah teman pak Marten Tato. Berdasarkan informasi itu, pak Marthen Tandirura, pak Luther Yansen dan pak Marten Tato menemui pak Horman Pudinaung di rumah beliau. Dan akhirnya tanah itu disetujui untuk diberikan. Maka, sekali lagi, apa yang tidak terjangkau oleh tangan dan pikiran manusia ada dalam rencana Allah sang Pemilik Gereja! Bersadarkan informasi itu maka diajukanlah permohonan dengan No: 05/JJ-CKB/V/03, pada bulan Mei 2003 kepada Otorita Batam untuk tanah tersebut. Pada tanggal 31 Desember, permohonan dijawab, sekaligus pemberitahuan untuk segera membayar uang muka UWTO, yang pada tanggal 13 Januari 2004 telah dilunasi. Legalitas lain yang dibutuhkan diantaranya keanggotaan PGI Kepri dengan No: 107/PGI/Kepri/VII/2002, Surat Keterangan dari Badan Kerja Sama Antar Gereja No.007/BKAG/X/2003, dan laporan ke Departemen Agama Kota Batam. Sambil mengurus surat penyetujuan warga, yang meminta tanda tangan warga setempat. Karena ada beberapa warga yang belum bersedia bertanda tangan, maka tim dan Panitia pergi menghadap ke salah seorang warga yang cukup disegani, yaitu bapak H. Ahmad Dahlan SH.

Sejak saat itu dimulailah proses pembangunan, meskipun tetap saja ada yang tidak begitu puas dengan lokasi yang ada di bukit dengan tingkat kesulitan yang tinggi untuk meratakan menjadi pelataran yang baik untuk membangun. Panitia Pembangunan dan Majelis  juga terus mengupayakan pengurusan surat-surat tanah

Periode 2004-2007

Sejak BOB memberikan tanah tersebut, dengan syarat kelengkapan yang telahdipenuhi,  Ijin prinsip diberikan maka Panitia Pembangunan memulai kegiatannya dengan agenda[10]:

  1. Pemotongan dan pemerataan tanah, dimulai tanggal 1 Nopember 2004, didahului oleh doa yang dipimpin oleh Pdt. Robertus Pakan dan dihadiri oleh 10 majelis gereja dan 15 warga jemaat;
  2. Pekerjaan Pembangunan semi permanen mulai tanggal 10 Januari 2005 di bawah pimpinan tenaga teknis yaitu Daniel Bato’ Tampak
  3. Pada tanggal 19 Februari 2005 peletakan batu pertama sekaligus pengurapan proponen Marlina Pasarrin, STh di Gedung GKPS, diurapi menjadi pendeta jemaat Batam. Hal itu diatur sedemikian rupa karena pada saat pengurapan hadir beberapa pendeta. Pendeta-pendeta yang meletakkan batu pertama adalah:
    1. A.J Angui (Ketua MPGT)
    2. Pdt DP SUmbung (Ketua II BPS)
    3. Musa Salusu (Ketua Sinode Wilayah IV)
    4. Agustinus L. Pabontong (Ketua Klasis P. JAwa)
    5. Yususf Sudi Maliku (Ketua BPM Jem. Jatiwaringin)
    6. Robertus Pakan (Ketua Majelis Cakeb. Batam)
    7. Luther Jansen (Ketua Panitia Pembangunan)

Pada tanggal 19 Juni 2005 gedung gereja ini pertama kali digunakan. Jemaat dengan penuh suka cita berduyun-duyun datang beribadah dan bersyukur, meskipun memang masih dalam kondisi yang masih sangat terbatas. Tetapi syukur dan kebahagiaan terus terpancar dari seluruh jemaat atas jerih payah dalam kebersamaan mewujudkan rumah Tuhan. Tidak lama setelah ibadah pertama di gedung gereja yang sedang dibangun itu, laporan tim Visitasi yang memvisitasi Cabang Kebaktian Batam untuk menjadi jemaat, diterima dan diputuskan dalam Rapat Kerja Klasis, atas nama Persidangan XI di Cisarua Bogor. Mensyukuri peresmian menjadi jemaat tersebut, majelis gereja mangadakan pengucapan syukur yang diadakan pada tanggal 13 Agustus 2005 yang dipimpin oleh bapak Pdt, Soleman Batti, MTh.

Pada periode ini juga terjadi musibah runtuhnya batu miring yang dibangun Panitia Pembangunan.Hal itu disebabkan karena kesalahan tekhnis, tidak ada drainase. Akibatnya, ketika hujan dan debit air yang mengalir dari atas cukup tinggi, sehingga air meluap masuk ke rumah-rumah penduduk setempat. Bersamaan dengan runtuhnya batu miring, berakhir juga kepanitiaan pembangunan periode pertama. Panitia pembangunan dibentuk lagi yang di ketuai pak Budi Mardianto. Atas peristiwa itu, panitia ini membangun batu miring itu dengan membangun drainase. Proses pengurusan IMB dan pembangunan terus berlanjut dan pada bulan Mei 2006, menjadi suka cita tersendiri, meskipun di tengah-tengah banyaknya persoalan dan pergumulan jemaat, jawaban doa atas permohonan IMB telah keluar.  Namun sayang Pada tahun itu, karena banyaknya tantangan dan pergumulan terkait dengan pembangunan dan dinamika di dalam pelayanan beberapa panitia termasuk ketua mengundurkan diri dari kepanitiaan. Pembangunan pastori terus berlanjut oleh panitia yang masih bertahan dan dibackup oleh Ketua Bidang III. Dan tidak lama berselang sesudah itu, yaitu pada tanggal 22 Oktober 2006 Pdt. Robertus Pakan dimutasi ke Kantor Sinode. Untuk mengisi kekosongan atas dimutasinya Pdt, Robertus Pakan ke kantor Sinode, maka majelis gereja menggumuli untuk memanggil pendeta. Pada tanggal 05 Mei 2007 Pdt. Danie Pakau Mila diteguhkan menjadi Pendeta jemaat Batam.

Pada masa ini dinamika dengan tingkat tensi agak di atas ambang terjadi bahkan berada pada tingkat zenitnya. Dinamika di dalam tubuh panitia pembangunan, dan juga di dalam kemajelisan mewarnai periode ini. Terjadi dualisme di dalam jemaat yang bermula dari panitia pembangunan dan beberapa kasus pelayanan dan pendekatan pelayanan yanag dilakukan baik oleh pendeta, penatua dan diaken.Pada periode ini jugalah ide pendirian PKB (Persekutuan Kaum Bapa) muncul tetapi kurang mendapat respon oleh sebagian majelis. Padahal  PKB ini lahir dari situasi kondisi kaum bapak atau pria di jemaat Batam dengan segala kompleksitasnya. Meskipun demikian PKB terus berjalan dan bahklan kemudian di jemaat Batamlah  awal mula PKB berdiri di seluruh jemaat-jemaat se Klasis Pulau Jawa. Inilah yang disebut dari awal sebagai akibat dari kurangnya pengalaman dalam kegerejaan, penatalayanan bahkan aturan-aturan gereja. Apalagi ditambah karena sebagian besar majelis dan jemaat tergolong masih muda dengan semangat yang berapi-api.

Sebagai wujud tanggungjawab dan kepedulian, maka Majelis Gereja Jemaat Jatiwaringin dalam hal ini Pdt. Yusuf Sudi Maliku dan Pnt. Samuel Parantean datang mengunjungi terkait dengan beberapa persoalan dalam Jemaat Batam. Pada periode ini juga, ketua BPM yang dijabat Pdt. Robertus N Pakan beralih ke Pdt. Marlina Pasarrin, sebagai bagian yang wajar dalam periodisasi dan organisasi kemajelisan. Hal ini juga dimaksudkan dalam rangka kaderisasi.

Dinamika yang tingkat tensinya agak di atas ambang ini mengakibatkan dimutasinya bpk. Pdt. Robertus Pakan ke kantor Sinode sebelum masa periodenya berakhir di Jemaat Batam. Dinamika ini nyaris mewarnai seluruh sendi kehidupan berjemaat.Namum demikian, seprti yang Tim kemukakan di awal buku ini, semua itu mestinya dipahami secara positif. Semua pihak menginginkan yang terbaik, namun kadangkala kesabaran, saling menghargai satu dengan yang lain dan menempatkan kepentingan persekutuan di atas segalanya kadang tidak diletakkan secara proporsional. Tetapi rencana dan kehendak Tuhan harus terus menjadi standar acuan dan sekaligus menjadi tujuan. Inilah yang Paulus maksudkan bahwa “Aku harus terus berlari menuju ke depan dengan tetap memandang Yesus”. Di dalam kerangka inilah, proses yang terjadi dalam keperiodean majelis dan dinamika yang turut menyertainya, semua hal arsebut ditempatkan.

Periode 2007-2010

Seiring perjalanan waktu, pelayanan di Batam juga berproses menurut tuntutan konteks dan konten pelayanan tersebut. Dinamika terus bergulir secara dinamis di bawah kepemimpinan Pdt. Marlina Pasarrin,  dan tetap dalam kendali tangan Sang Pemilik Persekutuan. Proses learning by doing di dalam kemajelisan dan penatalayanan kadang sulit dimengerti oleh rekan-rekan majelis sebagai proses alami untuk bertumbuh, demikian kesan dari Pdt. Marlina dan Pdt. Daniel Mila[11]. Kehadiran Pdt. Daniel Mila Pakau di awal periode ini memberi warna tersendiri. Sifat persahabatan yang ditawarkan kepada setiap orang menghadirkan suasana yang agak cair.Apalagi kedekatannya secara persahabatan, karena Pdt. Daniel Mila Pakau pernah melayani di daerah Bori’ ketika masih mahasiswa dan berjumpa dengan Ibu Marlina.

Di awal-awal periode ini dinamika pelayanan dari segi organisasi sudah menjadi lebih baik.Penatalayananpun sudah berjalan lebih baik.Jemaat berada pada kondisi yang agak lebih kondusif, kendatipun riak-riak peristiwa 2006, sebagaimana dikisahkan di atas tetap mewarnai. Ketua BPM  beralih lagi ke Pdt. Daniel Mila Pakau pada tahun 2008. Pada masa ini intensitas perkunjungan lebih ditingkatkan. Apalagi semangat pelayanan dari kedua pendeta ini sangat baik. Perhatian kepada OIG juga ditingkatkan. Kehadiran tenaga Kerja dari Toraja melalui proses rekrutmen perusahan kepada Pemda TATOR, dan  kehadiran beberapa sarjana Toraja lulusan Ujung Pandang, dan beberapa dari Jawa menambah dinamika pelayanan dan organisasi. Mereka adalah anggota PPGT dan aktivis PPGT dan mahasiswa di mana mereka menuntut dinamika persekutuan khususnya PPGT di Batam. Kehadiran mereka semua inilah yang menambah dinamis persekutuan. Boleh dikatakan, keberadaan PPGT pada masa ini berada pada puncak kejayaan.Sekolah Minggu juga mulai mendapat perhatian khusus. Apalagi ketika semakin bertambahsekolah  pengasuh dan guru.

Dari buku Garis-garis Besar program jemaat pada periode ini, tergambar perhatian kepada pengembangan kualitas persekutuan yang antara lain terhadap kualitas dan integritas Penatua dan syamas/diaken. Upaya menggali potensi warga jemaat dilakukan dengan pembinaan dan melibatkan dalam kegiatan-kegiatan langsung misalnya memimpin doa, pendampingan dalam persiapan bersama setiap hari Senin kepada semua pelayan yang memimpin ibadah KRT dan OIG. Pada periode ini juga sudah ada beberapa majelis gereja yang bisa memipin Kebaktian Rumah tangga, bahkan memimpin Ibadah Minggu. Nuansa Pembaruan yang dihembuskan pada Sidang Sinode di Jakarta, memberi angin segar, khususnya dalam hal Tata Ibadah.

Seriring dengan semangat pelayanan dan bertambahnya jumlah anggota yang tersebar ke hampir seluruh sudut kota Batam, maka mulai juga dipikirkan bentuk pelayanan dan bangaimana menjangkau semua angggota yang terbagi itu baik secara wilayah, jam-jam kerja dan jenis-jenis pekerjaan, maka disepakati untuk membuka tempat kebaktian di Batu Aji dan Batam Centre. Juga membuka ibadah subuh di Tiban. Dengan dibukanya dua tempat kebaktian di Batu Aji dan Batam Centre pada Pukul 17.00 sore,  serta pukul 06.00 subuh di Tiban, maka harapannya adalah tidak ada lagi yang tidak bbaderibadah karena alasan jauh dan jam ibadah bertepatan dengan lembur atau jawwal kerja mereka.

Dalam hal pembangunan, pada periode ini berfokus pada penyelesaian gedung gereja melalui penggalangan dana. Malam Puji dan Firman, yang menghadirkan artis rohani ibu kota. Panitia pembangunan diberi tugas untuk pengadaan lahan rumah Koster/Tata Usaha dan Pengajuan pengadaan lahan untuk tempat Kebaktian Batu Aji dan Batam Centre. Untuk Kebaktian Batu Aji, dibentuk tim pengadaan lahan yang Ketuanya adalah Marthen Tandirura, sekretaris adalah Matius Toding. Tim ini berhasil mengusahakan pengadaan lokasi.

 

Periode 2010 – 2013

Pada awal periode ini khusunya di tahun 2010 Pdt. Marlina Pasarrin memasuki proses muatasi. Jemaat kembali bergumul untuk mencari pengganti Pdt. Marlina Pasarrin. Akhirnya pada bulan Juli 2010 Pdt. Agustinus L. Pabontong diteguhkan menjadi pendeta jemaat. Banyak harapan diletakkan di atas pundak beliau dalam menengarai berbagai persoalan pelik yang selama ini dihadapi oleh jemaat. Bersama dengan Pdt. Mila, periode ini, membahterakan bahtera jemaat menuju pelabuhan kasih.

Program yang masih terus berkelanjutan adalah perampungan pembangunan dan menindaklanjuti program-program pembinaan Jemaat, setelah sekian lama majelis gereja menjadi prioritas pembinaan. Namun bukan berarti bahwa majelis gereja telah sempurna dan tidak perlu lagi program pembinaan. Periode ini juga ditandai dengan perbaikan dari segi organisasi dan manajemen gereja, serta pelaksaan khususnya dalam pengambilan keputusan strategis mengenai berbagai hal yang telah mewarnai persekutuan selama ini.

Program lanjutan pembangunan berjalan dengan baik. Berbagai usaha penggalangan dana dilakukan. Di awal tahun 2011, secara tidak sengaja Lidya Nursaid mengunjungi Batam di gereja GPIB. Setelah dihubungi dan berkenan hadir pada ibadah minggu awal tahun, maka beliau menyumbangkan puji-pujian dan jemaat merespons dengan sukacita. Usaha dana saat itu dapat menutupi hutang panitia pembangunan yang cukup besar. Waktu berjalan. Desakan untuk merampungkan pembangunan sesuai target yang ditentukan terus berlangsung. Diadakan lagi malam dana dengan menghadirkan Sean Idol pada tahun 2012 dan berikutnya Audry Papilaya-Molukas pada tahun 2013. Dan syukur kepada Dia yang empunya gereja, usaha-usaha tersebut sangat membantu panitia, sehingga perlahan-lahan gedung gereja ini boleh semakin rampung.

Pelayanan dan penatalayanan di setiap tempat kebaktian pada periode ini semakin menjadi perhatian. Tempat kebaktian Batam Centre yang selama ini beribadah di GBKP, nampaknya kurang strategis mengingat lokasi sebagian jemaat berada di Legenda dan Mediterania. Jam Ibadah yang selama ini di adakan pada Pukul 16.00 WIB juga membuat minat warga untuk beribadah mengingat waktu seperti itu adalah waktu untuk beristirahat. Khususnya bagi anak-anak sekolah minggu yang tentunya harus bersiap pada pukul 15.00.Atas pertimbangan tersebut maka majelis gereja mencari tempat atau gedung gereja baru yang memungkinkan dan strategis baik dari segi tempat maupun waktu. Gedung Gereja GKOI menjadi pilihan, dan syukur mendapat respons yang bik dari pendeta dan majelis GKOI. Akhirnya tempat kebaktian Batam Centre pindah dari GBPK ke GKOI di Legenda dan memindahkan jam Ibadah dari pukul 16.00 ke Pukul 19.00 WIB.

Dari segi efektifitas rapat yang selama ini nyaris menjadi saat-saat yang  menegangkan dan dihindari karena seringnya terjadi konflik. Menjadi konflik karena rapat belum dimaknai sebagai tempat untuk saling memberi dan menerima masukan bagi peningkatan pelayanan dan sebagai tempat untuk belajar memimpin dan tempat untuk saling mengenal karakter tiap-tiap orang.Langkah yang ditempuh adalah mengurangi intensitas rapat kecuali ada hal-hal yang urgen, khususnya rapat BPM yang setiap minggu diadakan. Dan dibutuhkan kepeimpinan yang tegas dalam mengambil keputusan. Terapi ini agak memberikan dampak yang baik, rapat-rapat menjadi lebih kondusif. Di sisi lain perhatian pada masalah-masalah keluarga diberi perhatian. Program Kebaktian Bina Iman Keluarga yang ditambahkan pada program Ibadah dimaksudkan agar sharing di dalam keluarga dan keterbukaan kepada pendeta dapat terjadi.

Pada periode ini, jemaat Batam mendapat kesempatan lebih banyak dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan di tingkat Klasis. Sebut saja misalnya Persidangan Sekolah Minggu Tingkat Klasis yang diketua oleh Pnt. Agustina Massa  dan Sidang Klasis XIV Klasis Pulau Jawa  yang diketuai oleh Pnt. Yohanis Sampekendek, terbilang berhasil dan sukses. Di dalam Sidang Klasis inilah juga diputuskan pendewasaan tempat kebaktian Batam Centre menjadi Jemaat.

Mengenai pendewasaan tempat kebaktian Batam Centre, ini dimaknai sebagai perkembangan jemaaat secara wajar yang secara kewilayahan tidak dapat dijangkau lagi. Dan demi untuk mendekatkan pelayanan ke jemaat, yang walaupun menimbulkan kost atau biaya organisasi dan persekutuan yang lebih tinggi. Penulis sendiri, dalam hal ini saya, Pdt. Johana R. Tangirerung, berkali-kali dalam setiap rapat bahkan dalam polemik tentang pro dan kontra pendewasan yang hidup ditengah jemaat ini berusah memberikan pemahaman dan menyarankan untuk tidak mendewasakan tempat kebaktian Batam Centre.

Gambaran yang dimaksud adalah menjelaskan apa kelebihan dan kekurangan jika didewasakan dan jika tetap satu dengan meningkatkan intensifikasi pelayanan. Jika didewasakan akan menimbulkan kost organisasi dan pshikologis bagi persekutuan secara keseluruhan. Pertimbangan ini diberikan mengingat jemaat ini sudah terlalu lelah berjuang untuk pengadaan lahan dan membangun. Kalau menjadi dewasa berarti berpisah secara fisik bangunan dan persekutuan. Itu berarti memulai segala sesuatunya lagi dari nol. Baik dari segi organisasi, pembangunan fisik dan persekutuan. Belum lagi factor-faktor pshikologis yang bisa saja timbul.Ibaratnya manusia, sudah saatnya berjalan tetapi harus kembali merangkak. Sudah seharusnya pembinaan ke dalam, dengan pendewasaan jemaat, berarti harus kembli lagi memikirkan pembangunan dan konsolidasi ke dalam dengan biaya organisasi dan pembangunan fisik serta kost phsiko-sosial yang dimaksud.

 Jalan ke luar yang ditawarkan agar tetap satu jemaat tetapi menatanya dengan meminjam istilah pertanian, sistem intensifikasi (peningkatan ke dalam) bukan dengan ekstensifikasi (peningkatan ke luar), misalnya menata lebih baik pelayanan dengan menambah tenaga pendeta dan menempatkan dan mengembangkan sistem pelayanan kategorial. Sistem pelayanan kategorial yang dimaksud adalah mengembangkan pelayanan dengan pola kategorial, mislanya peningkatan pelayanan sektor dan menempatkan pendeta berdasarkan sektor, menambah pendeta yang khusus melayani generasi muda yaitu PPGT dan Sekolah Minggu, dan yang khusus melayani pastoral dan perkunjungan, organisasi dan kegerejaan. Sayangnya usul ini tidak lagi mendapat perhatian yang serius karena berbagai kondisi yang tercipta saat itu.

Ide ini harus diendapkan lagi karena semangat untuk memisahkan diri menjadi jemaat tersendiri jauh lebih besar kendatipun jujur diakui hanya dari beberapa orang atau kelompok tertentu.Namun itu sudah menjadi keputusan bersama dan tentu tidak lepas dari riak-riak atau akar pahit masa lalu yang kalau mau sadar belum pulih secara total. Tetapi baiklah itu diterima secara positif dan telah melalui proses yang prosedural dalam aturan Gereja Toraja. Prosedural yang dimaksud adalah,  usulpendewasaan itu dimunculkan dari jemaat khususnya dari Batam Centre, lalu diusulkan dalam Rapat Pleno. Hasil rapat Pleno menyetujui usul tersebut dan akan menjadi salah satu usul di dalam Persidangan Klasis. Persidangan Klasis menyetujui dan dalam mempersiapkan segala sesuatunya dalam Rapat Pleno sesudah Sidang Klasis dibentuklah karetaker dan dan Pdt. Daniel Mila Pakau diutus ke sana mendampingi karetaker mempersiapkan segala sesuatunya untuk menjadi jemaat dewasa. Kurang lebih enam bulan kemudian tim Visitasi dari Klasis datang memvisitasi layak tidaknya tempat Kebaktian Batam Centre menjadi  jemaat. Hasil tim visitasi memperlihatkan bahwa tempat kebaktian di Batam Centre layak menjadi jemaat. Semoga ini menjadi awal yang baik bagi pertumbuhan jemaat baru di Batam Centre. Pada tanggal 16 Desember 2013 resmi menjadi Jemaat dan ibadah pengucapan syukur diadakan sekaligus menjadi perayaan Natal.

Sesudah pendewasaan tempat kebaktian Batam Centre, penatalayanan di Jemaat Batam tetap berjalan seperti biasa. Bahkan berusaha melihat proses yang baru saja dialami bersama sebagai salah satu dinamika perjalanan pelayanan. Disanalah jemaat idealnya menjadi lebih dewasa menanggapi setiap tapak-tapak pelayanan yang telah dilalui bersama. Dan selalu berusaha menempatkannya dalam kerangka perjalanan gereja Tuhan yang tidak pernah lepas dari topangan kasih-Nya.Pada akhir periode ini pembangunan gedung gereja mamsuki tahap finishing.Bahkan dalam periode ini pengadaan lahan dan pembangunan gedung Pusat Kegiatan Pelayanan Anak Gereja Toraja Jemaat Batam. Ini lahir dari kesadaran yang sungguh akan pentingnya perhatian lebih kepada Sekolah Minggu.

 

Periode 2014-2016

Pada periode ini dimulai dengan komposisi kemajelisan yang baru.Ada banyak anggota yang selama ini belum mendapat peran lebih jauh telah duduk dalam kemajelisan. Sektor dalam rangka komunikasi pelayanan tetap tiga yaitu Batu Aji, Bengkong-Baloi Batam Centre (karena ada beberapa anggota yang wilayahnya di Batam Centre tetapi tetap menjadi anggota di Tiban) dan sektor Tiban sendiri. Tetapi dalam pelaksanaan Ibadah KRT, dibagi menjadi dua yaitu Batu Aji dan Tiban yang bergabung dengan Bengkong, Baloi Batam Centre (TBBC).

Berdasarkan analisis TP3 yang lahir dari pergumulan jemaat dan dalam upaya mewujudkan segala potensi dan mengeliminir segala kendala dan kurangan serta kerendahan hati untuk mau belajar dari kesalahan membedah persoalan masa lalu,  maka periode ini dimulai dalam satu visi-misi. Berdasarkan pemahaman yang benar mengenai apa dan bagaimana gereja, maka dari sinilah jemaat dapat bertumbuh secara sehat ke arah eklesiologi yang benar. Kesadarn bahwa seluruh anggota jemaaat adalah batu-batu hidup sebagaimana yang disampaikan Rasul Paulus dalam suratnya 1 Petrus 2:5, “Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah”. Warga jemaat adalah batu yang hidup yang dipergunakan untuk membangun Rumah Allah yaitu Kerajaan Allah di bumi. Berdasarkan itulah, program kerja dirancang dengan Visi, “Menjadi Batu-batu hidup”, dengan misi “mempertahankan, memelihara dan mengembangkan Potensi Jemaat.

Dengan visi ini misi ini diharapkan menjadi arahan dan motivasi bagi majelis gereja dalam menjankan setiap program yang telah ditetapkan berdasarkan refleksi pemikiran, aspirasi dan analisis pemetaan perjalanan sejarah dan dinamika pelayanan yanag telah terjadi selama ini, menuju perwujudan tubuh Kristus dalam jemaat.  Dari segi organisasi baik di dalam kemajelisan maupun di tingkat OIG, mengalami perkembangan yang cukup siknifikan ke arah visi yang dimaksud. Dalam kepanitiaan konperensi PPGT di mana PPGT Jemaat Batam menjadi panitia penyelenggara tahun 2014, ada banyak wajah-wajah baru.

Peningkatan kualitas Ibadah di semua lini, termasuk OIG menjadi perhatian utama. Sehingga kegiatan tidak sekedar menjadi rutinitas, tetapi kegiatan yang lebih memberdayakan dan mengubahkan. Perkembangan menarik di bidang ibadah adalah meningkatnya animo jemaat untuk terlibat dalam setiap kegiatan khusususnya kegiatan Paduan Suara. Dengan menetapkan pelatih khusus dan tetap.

Di bidang pembangunan, pada periode ini diadakan pentahbisan gedung gereja yang mana ide pembuatan buku sejarah ini muncul. Disusul proses penyelesaian gedung Pusat Kegiatan Pelayanan Anak. Diharapkan semua ini rampung pada tahun ini. Dan dalam menindaklanjuti semua ketersediaan infrastruktur ini, dan dalam rangka terus menyediakan wadah bagi majelis dan seluruh jemaat untuk berbuat, maka dalam program tahunan akan dibentuk Yayasan yang menangani Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Yayasan ini adalah bagian penting dari gereja untuk meningkatkan pelayanan kepada anak, baik dalam lingkup gereja sendiri (SMGT), maupun dalam masyarakat di sekitanrnya.

Selain itu juga ada ide untuk merambah pendirian jemaat di Pekan baru. Beberapa minggu yang lalu ada informasi dari Pekan Baru mengenai kerinduan masyarakat Toraja di sana untuk menyatukan diri dalam gereja Toraja, yang diharapka difasilitasi oleh Jemaat Batam. Insting pelayanan yang diwariskan dari jemaat jatiwaringin ini terus menggelitik majelis gereja untuk segerea mewujudkannya.

Periode ini sedang berjalan, kiranya dua hal terakhir  ini setelah pentahbisan gedung gereja, menjadi perhatian dan fokus seluruh jemaat ke depan untuk ditindaklanjuti. Pegumulan dan persoalan dalam terang dinamika persekutuan memang tidak akan pernah berakhir. Ini akan menjadi proses menjadi yang terus menerus bergeliat seirama dengan tuntutan zaman. Sejarah gereja jemaat Batam baik yang tertuliskan lebih-lebih yang tidak tertuliskan kiranya menjadi cerita dan kisah kiranya dapat dimaknai dalam terang Sejarah Keselamatan Umat Allah.

Sejarah gereja selalu diwarnai oleh tantangan dan pergumulan di setiap konteksnya.Ada air mata bahkan tidak jarang diwarnai oleh tetesan darah para martir gereja. Sejarah gereja Batam juga tentu mencatat banyak peristiwa yang menyakitkan, tetapi sukacitanya ialah, pada salibnya gereja ini terus bertumbuh, bahkan telah menjadi dua jemaat lagi, yaitu Jemaat Kualalumpur dan Jemaat Batam Centre dan ada kemungkinan lagi untuk merambah ke Palembang dan Pekan Baru. Mari terus percaya pada pekerjaan Tuhan

 

BAB III

REFLEKSI

 

MEMULAI, MELANJUTKAN DAN MENGEMBANGKAN PELAYANAN DI GEREJA TORAJA JEMAAT BATAM

Dari Sebuah biji menjadi sebuah Pohon,

Idealisme Pendampingan dari seorang Hamba Tuhan kepada Masyarakat Toraja di Perantauan

Oleh: Pdt. Em. Semuel Layuk Allo

 

Berawal dari Perayaan Natal masyarakat Toraja di Kota Kucing Malaysia membuat saya sebagai Pendeta Gereja Toraja Jemaat Jatiwaringin berpikir tentang tempat pelatihan para pencari kerja (TKI) untuk diberi pembinaan sebelum ke luar negeri. Hal itu kemudian menjadi semakin menguatkan saya ketika saya berjumpa dengan  salah seorang pemegang kebijakan pada pemerintah Otorita Batam.

Tahun 2000 saya bertemu dengan Mayjen  TNI Yusuf Domi di rumahnya. Beliau menyampaikan  bahwa dia diangkat sebagai Deputi Operasi Otorita Batam. Dalam perjumpaan ini saya meminta agar beliau memberikan lahan untuk tempat membangun sebuah sarana bagi pelatihan pencari kerja orang – orang Toraja di Batam.Tahun 2001 beliau menyampaikan bahwa  dia sudah mendapatkan lahan itu seluas 1 Ha di Batam Center. Berita gembira ini kami bawa dalam sidang Majelis Gereja Jemaat Jatiwaringin yang kemudian di sikapinya mengutus 7 orang ke Batam yang diutus ialah:

  1. Semuel Layuk Allo. STh
  2. Datu Dendang
  3. Bapak Daniel Toding & Ibu
  4. Bapak D.S Dalipang & Ibu
  5. Bapak Marthen Batong SE

Tim tiba di batam dan menjadi tamu Otorita Batam dalam pengaturan Bapak. Mayjen Yusuf Domi. Sore hari kami adakan pertemuan dengan masyrakat Toraja di rumah Bapak Luther Jansen di Tiban. Dalam pertemuan dijelaskan tentang kedatangan kami dari team Jemaat Jatiwaringin yang rencana membuka cabang kebaktian di Batam, kemudian soal pemberian dari Otorita Batam akan dibicarakan bersama dengan Bapak Yusuf Domi di rumahnya pada malam hari.

Malam pertemuan di rumah dinas Bapak Yusuf Domi dan di situ beliau menjelaskan tentang posisi tanah 1 Ha dari Otorita Batam.Tanah itu diberikan kepada masyarakat Toraja diperuntukkan untuk menjadi tempat penampungan orang Toraja untuk  dibina atau diperlengkapi untuk menjadi TKI, dan di dalam kompleks itu dapat dibangun gedung Gereja Toraja. Pada pertemuan itu juga terbersit harapan agar pembangunan itu akan dikerjaka bersama oleh masyarakat Toraja Batam, PEMDA Kab Tana Toraja dan BPS Gereja Toraja. Kenangan akhir dalam perkunjungan itu, 5 anggota team ke Singapura dan 2 orang tinggal di Batam jalan-jalan ke penampungan pengungsi Vietnam.

Sejak saat itulah Tahun 2001 pelayanan di Batam dimulai, ditandai dengan Ibadah Perdana di Mess Toraja.Teman-teman pendeta di Klasis Pulau Jawa secara bergilir melawat umat Tuhan yang baru di Batam melalui pembinaan, memimpin khotbah Ibadah Minggu dan pelayanan-pelayanan lainnya. Sebelum baptisan pertama bagi anak-anak dan dewasa dan peneguhan Majelis Gereja, diadakan pembinaan bagi calon majelis gereja selama dua Minggu, di layani oleh Pdt. Agustinus Pabontong.

Dari perkembangan jemaaat ini, kami mengembangkan pelayanan gereja ke kota Pontianak dan telah mempersiapkan tempat-tempat persiapan di Sumatera Selatan dan Bengkulu. Demikianlah pekerjaan Tuhan di Batam yang dimulai dari setitik ide dan kerinduan untuk mendampingi dan memperlengkapi masyarakat Toraja yang notabene sebagaian besar adalah anggota Gereja Toraja di Batam.Usaha ini tentu tidak semulus dan semudah yang kita bayangkan.Memulai sesuatu yang baru memang bukan persoalan muda.Ada banyak tantangan, yang asalnya dari dalam diri masyarakat Toraja sendiri bahkan dari pihak lembaga. Alasan penolakan dari beberapa orang Toraja yang bahkan dikatakan sesepuh atau orang tua di Batam adalah karena mereka telah bergereja di gereja-gereja lain yang ada di Batam, misalnya GPIB, dll. Alasan dari pihak Gereja Toraja sendiri adalah persoalan wawasan Ekumenis. Bahwa orang Toraja adalah bagian dari gereja-gereja lain dan dapat menggabungkan diri saja ke gereja yang sudah ada tetapi yang tentunya adalah yang anggota PGI.

Namun demikian semangat kekerabatan dan kebersamaan sebagai orang Toraja tidak dapat  dibendung, tetapi juga tidak untuk mengatakan bahwa kita tidak mendukung wawasan Ekumenis. Hal ini selalu menjadi benang merah cikal bakal berdirinya Gereja Toraja di luar Toraja. Sekarang jika kita melihat perkembangan Gereja Toraja jemaat Batam dan manfaat kehadirannya di Batam, kita tidak pernah menyangka bahwa sejumlah tantangan itu akan terlewati. Tuhan Yesus pernah berkata, “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan ði mana Aku berada, di situpun pelayanank-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku ia akan dihormati Bapa” (Yohanes 12:26)

Satu hal yang sangat penting dan patut kita panjatkan khususnya dalam merefleksikan semua pekerjaan TUhan di Batam ini adalah, “puji syukur kepada Yesus Kristus, kepala Gereja telah menolong Jemaat Batam dan mengalami perkembangan seperti sekarang ini”.

 

Pdt. Semuel Layuk Allo, S.Th

 

Iman Memindahkan Gunung,

Membangun Jemaat Batam

Oleh: D.S Dalipang, SH & Keluarga

 

   Pada akhir tahun 2000, ketika Bapak Pendeta Samuel Layukallo,S.TH menjabat sebagai Pendeta dan Ketua Majelis Gereja Toraja Jemaat Jatiwaringin dalam suatu Rapat Pleno Majelis, beliau menyatakan bahwa setelah Jemaat Jatiwaringin telah mendewasakan Jemaat Surabaya, Depok dan Petukangan (Bintaro ), maka ada suatu potensi baru untuk melakukan pelayanan ke Pulau Batam dan Kota Pontianak karena banyak warga Toraja asal Gereja Toraja yang berdomisili di kedua tempat tersebut.

Dan khusus untuk Pulau Batam perlu segera direalisasi karena ratusan anak-anak muda yang sangat memerlukan pembinaan dan pelayanan rohani yang saat ini bekerja di berbagai perusahaaan industri maupun sebagai pelaut. Dengan adanya informasi itu lalu di putuskan mengutus beberapa majelis jemaat ke Batam dengan biaya sendiri kecuali Pendeta sehingga diutuslah Bapak Pendeta Samuel Layuk Allo,S.Th,Ibu Datu Dendang, Bapak Daniel Toding dan Ibu, Bapak D.S Dalipang dan Ibu,serta Bapak Marthen Batong.Dalam rapat itu di infromasikan bahwa pihak Otorita Batam telah memberikan sebidang tanah yang terletak di Batam Centre seluas 1 ( satu ) Ha kepada Keluarga Toraja, yang dapat di fungsikan untuk kegiatan pembangunan Gereja, namun masih ada kewajiban sejumlah uang yang yang harus di bayar ke Otorita Batam dalam waktu yang sangat mendesak.

   Bahwa untuk menindak lanjuti keputusan  Majelis Jemaat tersebut, pada bulan Februari 2001 kami yang di utus berangkat ke Batam dan puji Tuhan kehadiran kami di sambut dengan hangat oleh saudara-saudara di Batam baik yang satu iman maupun yang tidak seiman, sejak kami tiba di Bandara Hang Ngadim maupun di tempat-tempat yang di sediakan dan pertemuan yang di adakan.

Dalam pertemuan di rumah Bapak Luther Jansen waktu itu pada malam hari telah di lakukan  hal-hal antara lain:

  1. Ibadah sebagai tanda di mulainya pelayanan Gereja Toraja Jemaat Jatiwaringin di Batam meskipun ada suara yang kurang respek karena alasan keterikatan sebagai anggota jemaat di Gereja lain, tetapi pada umumnya menyambut dengan sukacita apabila Gereja Toraja dapat hadir melakukan pelayanan di Batam bagi warga Toraja yang sangat banyak jumlahnya tersebar di berbagai perusahaan Industri maupun sebagai Pelaut.
  2. Membicarakan rencana pembayaran uang kewajiban kepada Otorita Batam atas pemberian tanah 1 ( satu ) Ha di Batam Centre, dimana tanah tersebut di peroleh atas nama suatu yayasan yang di tangani Ikatan Keluarga Toraja Batam. Bahwa tanah tersebut di berikan Otorita Batam atas jasa dan dukungan Bapak Mayor Jendral TNI Yusuf Domi ( Orang Toraja asli ) selaku Wakil Penguasa Otorita Batam. Walaupun beliau seorang muslim tetapi sangat memperhatikan warga Toraja di Batam. Ketika kami berkunjung ke rumah dinasnya saat itu, beliau menyatakan bahwa beliau tidak mempersoalkan dan bahkan mendukung apabila tanah itu di gunakan untuk kepentingan Ibadah kerohanian. Dalam pembicaraan dengan saudara-saudara yang merindukan ke hadiran Gereja Toraja telah di sepakati bahwa Gereja Toraja Jemaat Jatiwaringin di harapkan membantu dana keuangan untuk membayar kewajiban ke Otorita Batam, sehingga malam itu juga kami dari Jatiwaringin dapat memberikan menurut kesanggupan sehingga terkumpul ±Rp 9.000.000,00 (sembilan juta rupiah) dan dari Kas Jemaat Jatiwaringin akan di kirimkan lagi setelah mendapat persetujuan dalam Rapat Pleno Majelis, dan kalau tidak salah ingat sebesar Rp. 25.000.000,00 (dua puluh lima jutah rupiah).
  3. Disepakati pula bahwa besok hari Minggu dilaksanakan Ibadah Kebaktian Perdana Gereja Toraja di suatu rumah Asrama Para Pelaut Orang Toraja yang terletak di TIBAN. Ibadah Perdana tersebut dilayani Bapak Pendeta Samuel Layukallo, S.TH yang menjadi titik awal berdirinya Cabang Kebaktian Gereja Toraja Jemaat Jatiwaringin di Batam.

   Bahwa setelah ibadah selesai, lalu saya berbicara kepada 2 (dua) orang di asrama itu sambil memandang ke bukit bahwa: “Sekiranya Tuhan Yesus berkenan, alangkah baik dan indahnya apabila Gereja Toraja berbuah-buah di Batam, kita mohon agar bukit itu dibeli dan di ratakan untuk di bangun 1 ( satu ) Gedung Gereja yang dari situ kita dapat memandang kota Batam”.Dan ternyata Tuhan Yesus pemilik Gereja mendengarkan pembicaraan kami tersebut karena terbukti setelah beberapa waktu kemudian saya mendengar bahwa sebagian lereng bukit tersebut telah di beli jemaat.

Atas tuntunan dan perkenaan-Nya sekarang telah berdiri Gedung Gereja Toraja Jemaat Batam yang sangat indah dan besar berdiri kokoh. Dari bukit tempat saya menaikkan doa ketika itu kita dapat menikmati pemandangan sebagian besar kota Batam dan lautnya yang indah. Dan ini menjadi memori tersendiri buat saya, dan menjadi sukacita yang tak terkirakan,  ketika berwisata Rohani memandang dan melihat Yerusalem dari Bukit Sion.Saya sungguh, teringat Gereja Toraja Jemaat Batam.

   Dalam tenggang waktu yang di alami saudara-saudara jemaat Batam sungguh banyak suka duka dalam bersekutu mencari pola bagaimana upaya membangun persekutuan jemaat baik fisik maupun rohani. Namun semua itu tidak menjadi tantangan yang dapat mengurungkan semangat, karena dasar persekutuan adalah Kristus sehingga saudara-saudara dapat mengatasi dan menyelesaikan bermacam-macam perbedaan. Bahkan ada persoalan menjurus kepada perpecahaan seperti Jemaat Korintus bahwa kami dari golongan Paulus, kami dari golongan Apolos, sehingga dengan adanya gonjang ganjing ini, saya bersama Bapak Pendeta Jusuf Sudi Maliku, S.THdanBapak Penatua Samuel Parantean datang lagi ke Jemaat Batam dan puji Tuhan, dapat diselesaikan dengan baik. Jemaat Batam patut berbangga dalam Iman karena dalam waktu singkat dapat mengembangkan pelayanan dengan terbentuknya jemaat baru di Batam Centre. Bahkan melalui jembatan Jemaat Batam Gereja Toraja dapat membentuk Jemaat Kuala Lumpur.

   Seorang Kristen Jepang dalam suatu tulisanya mengatakan: “Kami tidak ingin berdiri di atas misionaris kami, tetapi kami ingin menjadi kawan sekerja dengan mereka”. Tuhan Yesus dalam Injil Matius Pasal 4:19 bersabda: “Mari ikutlah Aku dan kamu akan Ku jadikan penjala manusia”. Dalam hal ini Tuhan Yesus ketika memanggil murid-muridNya,menolong mereka membuat suatu keputusan dengan memberikan panggilan agar mereka membantu pekerjaan menenangkan jiwa-jiwa, supaya hidup mereka didalam dunia ini bermanfaat.

   Gedung Gereja yang kokoh dan megah berdiri bukanlah suatu jaminan adanya kebangkitan dan pertumbuhan rohani jemaat, karena Gereja yang kosong dan kebaktian-kebaktian yang kosong di sebabkan oleh jiwa-jiwa yang kosong. Oleh sebab itu kiranya saudara-saudara merenungkan dan bertindak terus menerus membangun persekutuan, sehati sepikir bahu membahu meningkatkan pembangunan rohani jemaat demi nama dan kemulian Tuhan Yesu Kristus.

Ingat dan renungkan firman Tuhan dalam Wahyu 3:20 Tuhan Yesus bersabda: ”Lihat AKU berdiri dimuka pintu dan mengetuk barang siapa mendengarkan suaraKU dan membukakan pintu, AKU akan masuk duduk makan bersama- sama dengan mereka dan mereka bersama-sama dengan AKU”.

Jakarta, 28 Maret 2015

Salam Kasih

D.S Dalipang, SH

  

Gereja Toraja Jemaat Batam:

Buah Pekabaran Injil Jemaat Jatiwaringan

Oleh: Pnt. Samuel Parantean

 

Program Eksternal Pendirian Jemaat dan Pekabaran Injil.

Sejak didewasakan sebagai Jemaat Gereja Toraja, Jemaat Jatiwaringin melancarkan 2 program utama yaitu:

  1. Konsolidasi internal, meningkatkan pelayanan Am dan melengkapi sarana prasarana ibadah.
  2. Konsolidasi external, mengidentifikasi, memfasilitasi dan mendorong pendirian jemaat baru didaerah yang potensil.

Sesuai dengan program konsolidasi external maka dilakukanlah Misi Pengembangan ke beberapa daerah sbb :

  1. Tanggal 21 Okt 1990 mendewasakan Jemaat Surabaya.
  2. Tanggal 28 Nov 1998 mulai pelayanan Depok dan didewasakan jadi Jemaat tanggal 14 Mei 2000.
  3. Tanggal 31 Jan 1999 dimulai pelayanan di Petukangan dan didewasakan tanggal 19 Jan 2001 ( jadi Jem Bintaro).
  4. Tanggal 30 Juli 1999 pelayanan dimulai di Pontianak dan didewasakan tanggal 25 Jan 2004.
  5. Tanggal 25 Feb 2001 pelayanan dimulai di Batam dan Didewasakan tanggal 13 Agst 2005.

Latar belakang pembukaan Cab Kebaktian Batam

Prospek Batam sebagai wilayah industri, perdagangan, maritim dan parawisata diharapkan memberi peluang juga bagi warga Toraja yang tergolong berani merantau untuk bekerja dan berusaha di wilayah ini.Ternyata demografi perkembangan orang Toraja di Batam cukup signifikan.Tahun 2000, tahun milenium menjadi awal terbukanya ladang pelayanan di Batam.

Tuhan membuka jalan dengan hadirnya Mayjen (Purn) Yusuf Domi selaku Deputi Operasi Otorita Batam yang berkat komitmentnya kepada Gereja Toraja sebagai Toma’dadianna. Beliau memfasilitasi sehingga gereja / masyarakat Toraja mendapatkan jatah tanah 1(satu) Ha di Pusat Kota.

Pernah akan ditarik kembali oleh Otorita Batam, karena tidak membayar WTO, namun atas upaya Majelis Gereja Toraja Jemaat Jatiwaringin dan Batam, kewajiban pembayaran dapat ditanggulangi.

Sekitar tahun 2002 dalam lawatan Tim Majelis Jatiwaringin ke Batam dimana Bp Laksma TNI AL (Purn) Benyamin Bura ikut, diadakan pertemuan dengan Bp Ismeth Abdullah selaku Kepala Otorita Batam (yang kebetulan teman dekat kami)  untuk menyampaikan trimakasih atas pemberian tanah satu hektare. Di luar rencana salah satu deputinya adalah perwira TNI AL, se Angkatan dengan Bapak Laksma TNI AL (Purn) Benyamin Bura.

Pertemuan saat itu ternyata membuahkan berkat. Kita diberikan lagi Tanah 3000 meter yg sekarang ditempati Gereja Toraja Jem Batam.

Harapan ke Depan

Inilah beberapa catatan yg kami berikan dengan harapan:

  1. Pelayanan semakin dirasakan anggota jemaat.
  2. Pelayanan keluar sebagai program kesaksian kiranya semakin diintensifkan.
  3. Kehadiran Gereja Toaja di Batam semoga menjadi berkat bagi semua, bagi masyarakat Toraja, bagi masyarakat Batam dan bagi Bangsa dan Negara.

Salama’ Kaboro’.

Pnt. Samuel Parantean

 

 

Kenangan Indah,

Bersamamu Jemaat Batam Yang Kukasihi

Oleh Pdt. Marlina Pasarrin, S.Th

 

Palu, 20 Maret 2015

Beberapa waktu yang lalu Ibu Pdt.Johana R. Tangirerung bersama dengan Bpk Pnt.Luther Jansen menghubungi saya untuk membuat sebuah tulisan refleksi selama pelayanan di Jemaat Batam dan saya mengatakan bahwa saya akan upayakan oleh karena pada saat itu sementara sibuk-sibuknya persiapan untuk diuraikan dari Jemaat Elim Palu ke Jemaat Sion Anutapura Palu.Puji Tuhan ibadah urai teguh telah terlaksana dan selesai dengan baik yaitu penguraian di Jemaat Elim Palu pada hari Sabtu Tanggal 7 Maret 2015 dan peneguhan di Jemaat Sion Anutapura Palu pada hari Minggu Tanggal 8 Maret 2015 dalam ibadah pukul 09:00 pagi.Sekedar informasi bahwa kedua Jemaat ini berdekatan  kira-kira 10 Menit perjalanan naik kendaraan ke sana dan kedua jemaat ini berada dalam lingkup pelayanan Klasis Sulawesi Tengah.

Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan bahwa melalui Jemaat Batam saya diberikan kesempatan untuk dapat mengambil bagian dalam acara besar dan mulia pentahbisan gedung gereja Toraja Jemaat Batam melalui sebuah tulisan yang tentunya menjadi sebuah persembahan untuk memuliakan Tuhan dan bagi pertumbuhan jemaat Tuhan di Batam untuk sejenak menoleh ke belakang bagaimana sesungguhnya Jemaat Batam itu pada awal-awal perjuangan.

Perjalanan pelayanan yang jauh dan panjang penuh dengan suka dan duka, dengan langkah yang tertatih-tatih tangisan dan airmata telah tercurah dan bahwa ada begitu banyak orang yang Tuhan telah pakai sebagai alatNya hingga  dapat sampai pada keadaan yang sungguh  luar biasa sampai hari ini seperti yang telah dialami dan disaksikan oleh jemaat Tuhan jemaat Batam sekarang ini. Tetapi yang sesungguhnya di atas semuanya itu Tuhanlah yang berkuasa. Rasul Paulus dalam sebuah pengakuan dan penghayatan imannya dalam I Korintus 3:6-9” Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang dan bangunan Allah”.(baru sampai di situ hal yang saya bisa tulis dan sesudah itu berhenti ).

Tanggal 25 maret Pukul 08:30 pagi.

Saya duduk merenung….. lama…. terpaku di depan meja, di depan secarik kertas putih pulpen sudah di tangan untuk memulai menulis tetapi… serasa tidak sanggup, saya sungguh tidak kuat dan terlalu berat bagiku. Mau mulai dari mana??? apa yang akan saya tulis???Dada ini serasa sesak tetes-tetes air mata saya terjatuh membasahi kertas itu dan akhirnya tangisan saya pecah…saya menangis Terbayang kembali dengan jelas suka dan duka…semua yang telah kualami, kurasakan dan kunikmati selama melayani di Jemaat Batam.

Jemaat Batam oh Jemaat Batam….Terlalu banyak kenangan bersamamu.Kau goreskan tinta-tinta hitam, pahit dan kelam dalam hidupku. Karena engkaupun aku serasa pernah ingin berhenti jadi pendeta “Tuhan ampunilah hambaMu, aku tidak sanggup, aku tidak mampu” Keinginan itu berulang-ulang datang begitu kuat dan seakan-akan begitu kuat terus menerus berbisik di telinga ini. Lalu…hati ini terpengaruh “  saya akan berhenti”. Niat itu telah bulat, saya merasa telah mengambil keputusan yang terbaik, mantap dan saya sepertinya lega…. Tapi.. saat itupun seakan ada yang hilang dari hidupku…. terasa hampa, gersang dan kosong jiwa ini. Saya jadi salah, marah pada diri sendiri… menyalahkan diriku dan menghakiminya “Marlina Pasarrin engkau telah mengingkari panggilanmu dari Tuhan, terlalu kecil dan belum seberapa pergumulan yang kau hadapi bangkitlah, bangkitlah dan bangkitlah… ketika engkau tidak sanggup untuk berjalan saat itulah Tangan Tuhan yang perkasa menopang dan menggendongmu. Saya tersadar sesungguhnya sebuah kesalahan terbesar dalam hidupku hampir saja terjadi. Saya mengingat firman Tuhan 1 Korintus 10:13 ”Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu.Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. Dan dari Filipi 4 : 13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku. Amin Firman Tuhan… saya terlalu lemah dan kuatir berlebihan tanpa sadar bahwa kalau Dia, Tuhan yang memanggil, mengutus maka ia pasti akan menolong”.

Kuasa Tuhan sungguh luar biasa, kehadiranNya memulihkan dan menjangkau semakin banyak orang untuk datang dan percaya kepadaNya. Ia hadir dan melawat anak-AnakNya yang ada di Batam. Melalui berbagai upaya dan setiap orang yang Tuhan perkenan Ibadah pertama yang berlangsung di Mess Pelaut Toraja Batam-Singapura yang dipimpin oleh Bpk Pdt. Samuel Layuk Allo S.Th pada hari Minggu Tanggal 1 juli 2001. Hal itu disambut baik dan penuh luapan syukur dan sukacita kepada Tuhan bahwa apa yang selama ini menjadi harapan dan kerinduan orang-orang Toraja yang ada di Batam kini terjawab.Dimulainya ibadah dan berdirinya jemaat di Batam dengan nama Jemaat Jatiwaringin cabang kebaktian Batam itu berarti tanggungjawab untuk menata rangkaian tugas dan panggilan serta pelayanan itu adalah merupakan tanggungjawab bersama dan tidak mudah.Tetapi dengan tetap berkomunikasi dengan Jemaat Jatiwaringin sebagai induk maka anggota jemaat yang ada di Batam tetap mengupayakan bagaimana supaya pelayanan itu dapat berjalan dengan baik. Untuk menata seluruh pelayanan maka dipilihlah karateker dengan personil Sebagai berikut : Ketua Bpk Marthen Seneng Parura, Sekertaris Bpk Marten Tandirura dan Bendahara Bpk Cius Rita. Dengan terbentuknya karateker ini maka pelayanan demi pelayanan bias diatur dengan perlahan-lahan sekalipun semua tetap dalam proses terus-menerus belajar apalagi yang akan kita laksanakan. Paling tidak ibadah setiap hari Minggu dapat berjalan dan ibadah rumah tangga di beberapa rumah anggota jemaat. Melihat perkembangan dari hari ke hari semakin bertambah permintaan perhatian dan pelayanan seiring dengan bertambahnya juga anggota jemaat maka dipilihlah Majelis Gereja yaitu penatua dan diaken. Puji Tuhan saya terpilih juga… he..he.. kenangan indah untuk selalu saya kisahkan bahwa saya pernah jadi seorang penatua sebelum jadi proponen Tanggal 3 November 2002 dan selanjutnya diurapi menjadi pendeta Gereja Toraja ke 601 pada Tanggal 19 Februari 2005.

Waktu berjalan terus dan ada begitu banyak pelayanan karena itulah jemaat bersyukur ketika Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja mengutus Bpk. Pdt. Robertus Pakan, S.Th untuk melayani di Jemaat Batam.

Selanjutnya Bpk. Pdt. Robertus Pakan, S.Th bekerjasama dengan para penatua dan diaken menata semua pelayanan antara lain: sakramen Baptisan Kudus, Perjamuan Kudus, pernikahan yang sebelumnya masih dilayani dari Jemaat Jatiwaringin Jakarta dan atau pendeta-pendeta atas penunjukan dari Jemaat Jatiwaringin.

Anggota jemaat yang semakin bertambah dan Mess Pelaut Toraja Batam singapura tidak dapat lagi menampung jemaat ketika beribadah setiap hari Minggu dan karena itulah melalui kesepakatan bersama dan permohonan kepada Majelis Jemaat GKPS di Sei Panas yang kemudian memberikan kesempatan untuk melaksanakan KHM pada pukul 16:00 dengan membayar biaya pemeliharaan gedung sebesar Rp. 500.000 setiap bulan. Dan selama beribadah di GKPS hubungan terjalin sangat indah dan erat. Kegiatan-kegiatan GKPS diikuti oleh Majelis Jemaat Batam dan sebaliknya juga begitu kegiatan jemaat Batam diikuti oleh Majelis Jemaat GKPS.

 Puji Tuhan dari hari ke sehari pelayanan kepada Jemaat semakin berjalan dengan baik mulai dari penataan administrasi, pernikahan, perjamuan kudus, baptisan kudus, ibadah rumah tangga, OIG, perkunjungan kepada anggota jemaat yang tersebar di 4 wilayah pelayanan sektor yaitu sektor Tiban, Bengkong Baloi, Batam center dan Batu Aji. Bahkan ketika cabang kebaktian ini didewasakan menjadi sebuah jemaat dengan nama Jemaat Batam.

Setelah beberapa saat lamanya beribadah di Gedung gereja GKPS  maka kemudian jemaat kembali ke Tiban  untuk beribadah di sebuah bangunan semi permanen di atas sebidang tanah yang telah sekian lama dan melalui berbagai upaya dan orang-orang yang diperkenan oleh Tuhan sehingga tanah itu tersedia.

Pelayanan terus berjalan banyak hal yang terjadi suka dan duka pun tetap ada namun yang pastinya semuanya diupayakan yang dilakukan adalah untuk pertumbuhan jemaat dan terlebih untuk memuliakan Tuhan Sang Pemilik dan kepala dari persekutuan ini. Bahkan ketika cabang Kebaktian Batam dinyatakan didewasakan menjadi sebuah jemaat. Banyak kenangan indah bersama dengan kekasih yang adalah juga sebagai orangtuaku yang telah memberikan perhatian dan nasehat-nasehat berharga– Bpk.Pdt.Robertus Pakan dan juga dengan kakak terkasih yang juga selalu membuatku tertawa –Pdt. Daniel Mila Pakau. Yang pasti bahwa dari setiap peristiwa ada yang baik. Sesuatu yang sulit ternyata itu dipakai oleh Tuhan untuk kebaikanku. Sehingga setelah dari jemaat Batam mutasi ke Jemaat Elim Palu dan selanjutnya sekarang melayani di Jemaat Sion Anutapura Palu. Banyak pengalaman berharga yang dapat saya peroleh dari kebersamaan dalam pelayanan yang kemudian membuatku semakin berupaya bagaimana menjadi seorang yang memberi diri untuk benar-benar menjadi seorang pelayan dan hamba Tuhan.

Setiap saat mendapatkan informasi tentang Jemaat Batam saya selalu rindu untuk ke sana. Jemaat yang semakin bertambah, gedung gereja yang sangat indah dan megah serta sebuah keberhasilan yang telah mengantarkan sektor Batam center untuk menjadi sebuah Jemaat.

Di tengah-tengah keberhasilan dan berbagai capain yang telah dialami oleh Jemaat Batam satu hal yang kiranya jangan dilupakan yaitu hiduplah selalu dalam kasih, saling menolong, memperhatikan satu dengan yang lain serta hidup takut hormat kepada Tuhan. Ingatlah bahwa kita semua ini hanyalah alat-Nya, sebagai bejana tanah liat yang rapuh untuk diberikan kesempatan melakukan dan menikmati pelayanan-pelayanan di dalam jemaat milik-Nya. Kiranya Jemaat Batam menjadi sebuah Jemaat yang tetap hidup karena Tuhanlah yang dipuji, dimuliakan, diagungkan dan diberitakan di tengah-tengah persekutuan ini.Tetaplah menjadi garam dan terang, nyatakanlah selalu kebenaran dan apa yang baik, Dalam Yakobus 5:12b Firman Tuhan “Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman”.

Saya pernah mendengar seseorang  mengatakan bahwa Jemaat Batam ini mirip dengan jemaat di Korintus. Benar juga ya…jemaat Batam ini adalah jemaat yang hidup di tengah-tengah kumpulan orang-orang yang berdatangan dari berbagai tempat yang berbeda suku, latar belakang pendidikan, sosial ekonomi, budaya dan agama. Sementara itu juga menjadi kota pelabuhan yang berseberangan dengan Singapura dan Malaysia yang setiap saat dengan begitu cepatnya kunjungan dari negeri tetangga ini datang dan yang di Batam untuk ke sana. Godaan dalam berbagai bentuk jenis dan macamnya yang “menjelma” dalam berbagai cara menjadi tantangan tersendiri bagi anggota jemaat Batam dan juga Batam center untuk tetap menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Hedonisme (mengutamakan kesenangan), materialism (mengutamakan materi) dan konsumerisme serta berbagai macam kemewahan yang kalau jemaat lengah dan tidak hidup mengandalkan Tuhan maka akan jatuh terseret dan larut dalam praktek-praktek hidup yang tidak berkenan di mata Tuhan.

Bekerjalah dengan sebaik-baiknya dan jangan larut dalam permainan dunia yang menyenangkan dan nikmat untuk sementara tetapi berujung pada kebinasaan, maut yang berarti putusnya hubungan dengan Allah yang telah memberikan kita hidup dan pekerjaan. Hargailah hidup pemberian Tuhan, sebab Tuhanlah yang memperkenankan kita untuk ada dan hidup di dunia ini. Milikilah cara hidup seperti Nuh, yang sekalipun Nuh hidup di tengah-tengah orang yang tidak lagi mengindahkan nilai-nilai hidup yang baik dan tidak takut akan Tuhan dengan berbagai kejahatan dan kekerasan tetapi Nuh tetap tampil beda dan tidak larut dalam kejahatan orang-orang sekitarnya ( Band.Kejadian 6:9” Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah) dan akhinya Ia bersama keluarganya diselamatkan.

Yesus Kristus Tuhan kita telah memberikan teladan bagi kita anak-anak-Nya. Ia dalam kerendahanNya lahir di dunia ini, mati dan disalib dan bangkit mengalahkan kuasa maut, untuk memulihkan dan memenangkan kita semua.Biarlah di atas dasar inilah kita akan melakukan dan menjalani pelayanan di Jemaat Batam.

Doa saya bersama dengan suami dan kedua anak kami Kelvin dan Theo–Kiranya kesaksian, persekutuan dan pelayanan jemaat Batam semakin bertambah-tambah dari hari ke sehari dan menjadi tempat di mana nama Tuhan dipuji dan dimuliakan.

Selamat bagi teman sekerja yang kekasih Bpk. Pdt.Agustinus L.Pabontong dan Ibu Pdt.Johana R.Tangirerung, Selamat kepada sahabat-sahabat para penatua dan diaken, Selamat kepada pengurus OIG, Selamat kepada Panitia Pembangunan dan Selamat  kepada semua anggota Jemaat Batam.

Biarlah segala hormat, pujian dan kemuliaan bagi nama Tuhan .”Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia : Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Roma 11:36). Tuhan memberkati…

Pdt. Marlina Pasarrin bersama keluarga

 

Balada Seorang Gembala,

Refleksi Pelayanan di Batam

Oleh: Pdt. Daniel Mila Pakau, S.Th

 

  1. PENDAHULUAN

Penerbangan menuju medan pelayanan yang baru pun berlangsung. Kami terbang bersama buah langsat yang manis, pemberian jemaat yang saya tinggalkan di Rembon Sado’kok, kendatipun menguras isi kantong kami semua karena over bagasi.Nona, sang istri tercinta baru pertama kali naik pesawat, sehingga mendapat kenangan yang susah dilupakan.Kemudian kami transit lagi di Jakarta dalam kondisi dompet yang kosong,tiba-tiba muncul seorang ibu dari Palu menyapa pak Panggalo dengan akrab dan mengajak kami untuk makan bersama.Saya berkata dalam hati “ betapa baiknya Tuhan dalam memelihara hamba-hambanya, mengingatkan saya tentang kisah Nabi Elia yang diantarkan roti dan daging oleh burung gagak pagi dan sore ketika bersembunyi di sungai Kerit( 1 Raja-Raja 17 : 6 ) ”. Kamipun tiba di Batam dan disambut dengan hangat.

Ketika istri saya sudah mulai mual-mual, Papa Indah dapat membaca kegembiraan besar yang terpancar di wajahku,dia berkelakar:”eh ,Pak Pendeta jangan cepat gembira, siapa tau Ibu hanya masuk angin saja”.Demi sebuah harapan yang meyakinkan, atas bantuan Pak Mezak Yapin, kami mencari alat tes sensitive dan mendapatkannya sekitar jam 11 malam. Besok pagi sang ibu memakai alat tersebut, hasilnya: Puji Tuhan, sudah positif hamil setelah 3 bulan pernikahan kami di Kampung. Tidak terasa sudah hari ke 5 kami berada di Batam,tibalah saatnya peneguhan saya sebagai Pendeta Jemaat Batam Klasis Pulau Jawa tanggal 20 Mei 2007,bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional.

 

  1. SUKA DUKA PELAYANAN SELAMA MENJADI PENDETA JEMAAT DI BATAM 20 MEI 2007-29 SEPTEMBER 2013

 Setelah diteguhkan menjadi Pdt Jemaat Batam, kami mengadakan rapat pleno manjelis jemaat untuk membicarakan bagaimana kelancaran pelayanan ke depan. Hasil dari keputusan rapat antara lain:

  • Dalam struktur BPMJ,saya ditempatkan sebagai ketua I untuk mengurusi bidang ibadah yang sebelumnya ditangani oleh Bpk Pdt.Robertus Pakan,S.Th
  • Untuk mendukung kelancaran pelayanan, maka di bahaslah soal alat transportasi, karena kami dua pendeta,sedangkan motor hanya satu, maka diputuskanlah untuk membeli motor baru lagi.Syukur tanggal 7 juni 2007 motor baru warna merah diantar langsung oleh pak Mezak ke Pastori. Saya sangat berterimakasih, karena sebelumnya saya sempat berfikir bahwa biarpun hanya dibelikan sepeda saja, itu sudah bisa kita pakai melayani di Lokasi yang agak datar ini, dibandingkan dengan lokasi di Rembon Sado’ko’ yang telah saya layani 7 tahun 5 bulan 16 hari turun naik gunung, saya pun melewatinya dengan penuh bahagia.

      A. SITUASI DAN KONDISI PELAYANAN

  1. Luas Wilayah Dan Keberadaan Umat

Luas wilayah dan keberadaan umat ternyata tidak semudah yang dibayangkan sebelumnya. Dalam jiwa dan semangat melayani sebagai pendeta yang masih muda sungguh berkobar-kobar, kami berdua (Pdt Mila dan Pdt Marlina ) berkunjung keliling kesemua anggota di empat sektor sambil bekerja sama dengan majelis jemaat di sektor masing-masing.  Anggota jemaat yang menyebar di semua wilayah Kota Batam; ada yang tinggal di perumahan Elit, di Mess, di Dormitori, di Kapling bahkan di Ruli ( sebutan popular untuk Rumah Liar yang sewaktu-waktu terancam penggusuran apabila tiba saatnya akan dimanfaatkan oleh sang pemilik, apakah Pemerintah atau Perusahaan). Dan jalur untuk menggapai rumah mereka ada yang melalui jalan besar, ada yang lorong beraspal atau di semen, namun ada juga yang masih berbatu atau tanah, yang kadang kering dan berdebu tapi kadang basah dan berlumpur. Namun mereka semua adalah domba, milik Tuhan yang dipercayakan kepada gerejaNya untuk kami layani dengan setia tanpa pandang bulu.

  1. Kondisi Iklim

Kondisi iklim alam Batam yang tidak menentu,kadang saat kami berkunjung suasana dingin atau hujan dan angin menerpa tetapi ketika kami pindah kewilayah yang lain ternyata panasnya sinar matahari yang sangat menyengat. Pernah suatu kali dipanasnya matahari dan pantulannya seperti aspal yang menyala dari bawah dan dari samping ditepi jalan besar kami berlindung di bawah sebuah pohon, sementara ibu Pdt. Marlina asyik menerima telepon, mungkin dari suami tercinta di kapal, karena rasanya saya sudah tidak tahan panas, maka saya mengajak beliau untuk segera melanjutkan perjalanan perkunjungan yang disertai alasan yang membuat kamitertawa menghibur diri. Saya katakan : “ e ibu’ pendeta, tamalemo ia, denni mani tau untiroki’ nasanga miki’sipacar, ta’pa nakuami ibu’ pandeta Marlina mebali, mm… inang lanakuasiai tau, tukang ojekna to dio!” hahahaaa rasanya saya di- 1 – 0

  1. Sifat Dan Karakter Pribadi Umat

Bagaimana pun wilayah dan iklim alam dimedan pelayanan yang kami temui namun setelah kami berjumpa dengan umat di rumah mereka masing-masing atau dalam persekutuan ibadah, sungguh menyenangkan dan membahagiakan hati kami. Penerimaan umat kepada kami sebagai hamba Tuhan sungguh penuh keakraban dan kekeluargaan, tak ubahnya kita bagaikan seibu dan sebapa di negeri orang.Saya merasakan betapa indahnya memiliki banyak saudara yang penuh kasih didalam Yesus Kristus di Kota Batam.

Namun tak dapat disembunyikan bahwa kadang-kadang juga muncul sifat-sifat dan karakter pribadi umat yang keduniawian sehingga tidak searah dengan pesan dan karakter Kristus yang kita harapkan, antara lain :

  • Penghargaan kepada sesama sering didasari dengan kepentingan-kepentingan duniawi.
  • Sering pendapat seseorang didengarkan dan dituruti bukan karena isinya benar tetapi tergantung siapa yang mengatakannya.
  • Dalam rapat-rapat kadang melupakan prinsip komunikasi bahasa kasih dan warna persidangan kristiani yang benar.
  • Dalam mencari nafkah kadang ada yang terlalu materialistis sehingga Sering tidak kenal waktu istrahat, bahkan hari minggu pun tidak ke gereja karena memburu gaji OT (Over time) yang lebih tinggi nilainya yaitu gaji kadang dikali 2 dari hari biasa.
  • Untuk mendapatkan uang, kadang ada yang tidak berpatokan lagi dengan hal yang baik, benar dan legal tetapi cepat, gampang dan besar.

Dan perlu juga diakui bahwa kita majelis gereja tidak memiliki wewenang dan kuasa memeriksa dan mengetahui sumber uang yang di persembahkan umat kepada Tuhan melalui gerejanya. Yang penting umat memberi dengan tulus hati, bahkan saya pun sebagai pendeta dan pribadi mungkin telah banyak menikmati uang-uang yang demikian secara tidak bersengaja dan terencana. Karena bagiku adalahbaik untuk selalu menyambut setiap pemberian yang diserahkan dengan tulus dan murni. Demikian juga Gedung Gereja Toraja Jemaat Batam yang terbangun dengan megah ini dan telah siap untuk ditahbiskan, saya tidak berani mengatakan bahwa itu “steril dari uang-uang yang dimaksudkan diatas”. Namun saya berkeyakinan bahwa : semua yang berpartisipasi dalam pembangunan ini, baik panitia maupun majelis dan anggota jemaat bahkan para donatur dari dalam dan dari luar jemaat hanya dapat berbuat sesuatu karena seizin Tuhan. Sehingga usaha dan kerja keras semua pihak tidak mudah dilupakan. Saya ingat suatu waktu ketika kami bertiga : Pak Pdt.Pabontong, Pak Luter Jansen dan saya, melakukan kunjungan  pastoral kepada anggota jemaat yang terjauh sekaligus penjejakan pencarian dana pembangunan gedung gereja, tidak terasa waktu berlalu, sudah sekitar jam tiga sore dan kami belum makan siang. Pak Luther katakan: ”Bagaimana kalau kita cari makan dulu, dengan spontan pak Pdt.Pabontong menjawab dengan humornya yang khas : “sedangkan saya diajak berkelahi kalau sudah jam begini, saya pun mau “, dan kami semua tertawa mencairkan suasana lapar saat itu.

  1. KERJASAMA DALAM PELAYANAN

         Saya mengakui bahwa tanpa bekerjasama dengan semua pihak,baik rekan pendeta maupun seluruh majelis dan pengurus OIG tentulah saya tidak sanggup untuk mengangkat tugas pelayanan yang berat dan mulia itu. Sejak ibu Pdt. Marlina Pasarrin,S.Th, bapak Pdt Agustinus Pabontong, S.Th. MM, sampai kepada bapak Pdt. Semuel Lobo’, S.Th yang menggantikan saya di Jemaat Batam Center, sikap dan prinsip hidup yang saya terapkan dalam membangun kerjasama dengan rekan sekerja adalah menghormati dan menghargai orang lain terlebih dahulu. Dan hal ini sangat alkitabiah, sama dengan nasehat Rasul Paulus yang mengatakan : ”… saling mendahuluilah  dalam memberi hormat” atau “ … menganggap orang lain lebih utama”. Sehubungan dengan resep pergaulan dan kerjasama dalam pelayanan seperti itu, maka sebelum saya tiba di Batam, saya sudah sampaikan kepada ibu Pdt. Marlina bahwa : walaupun saya lebih tua tetapi menganggapmu seperti ibu saya (“…lakutiro indo’ komi”). Selain itu, ada Tata Usaha dan koster jemaat yang cukup sabar dan setia, yaitu Yustin Way dan Yulius Tato’. Mereka berdua sebagai tenaga fulltime di jemaat dan sangat menolong saya yang saat itu berjauhan dengan istri yang masih mengajar di Tabone-Mamasa, Sulbar. Kami tinggal bersama di Pastori dan mereka berdua adalah bagian dari anak-anak rohani saya. Demikian juga ketika ibu Pdt. Marlina telah dimutasikan ke Palu dan Bpk. Pdt. Pabontong datang, saya menyambut beliau dengan penuh sukacita. Apalagi saat itu kondisi saya sudah seperti terseot-seot karena berbagai beban dalam pelayanan, yang dulunya kami pikul bersama dengan ibu Pdt. Marlina pun sudah terasa berat, apalagi setelah beliau berangkat lebih setengah tahun. Sehingga kehadiran saudaraku yang kekasih bapak Pdt. Pabontong mendapat sambutan yang menggembirakan dan harapan yang sangat besar, baik dari jemaat maupun keluarga, teristimewa saya sebagai pendeta yang sudah lama merindukan partner yang baik. Saya sebagai pemimpin yang dipandang agak lemah dan kurang tegas waktu itu, maka sungguh diharapkan oleh majelis jemaat kehadiran partner yang mempunyai pengalaman dan talenta seperti yang dimiliki oleh bapak Pdt. Pabontong. Disamping pengalaman sebagai ketua BPK Pulau Jawa, beliau juga memiliki pendidikan dan rasa percaya diri yang tak dapat diragukan. Ditambah lagi topangan sang istri sebagai pendamping hidup yang adalah pendeta bahkan dalam hubungan keluarga kami sangat dekat. Dan lebih dari itu sang ibu memiliki talenta : “ manarang-narang menani susi bangsia ibu’ Marlina, na iatu kami sola pak Pabontong kua siagi-agi bangri dipake ma’ sangkoro’ mairi’ “. Kekeluargaan diantara kami pelayan sangat terasa. Bahkan ketika anak saya Rolan baru belajar bicara, kalau ditanya siapa nama papa’mu, langsung ia menjawab pak Pdt. Pabontong.

  1. TANTANGAN DALAM PELAYANAN DAN BAGAMANA MENGHADAPINYA

Setiap pelayan dalam menjalankan tugas panggilannya dari Tuhan di setiap waktu dan tempat, memiliki tantangan masing-masing.Bahkan mungkin ada yang dibenci seperti yang di ingatkan Yesus kepada murid-muridNya dalam Yoh.15:18 : ”Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu…”, namun membuahkan berkat yang indah dan manis.

Adapun tantangan-tantangan yang cukup menonjol dalam pelayanan dan bagaimana menghadapinya sebagai berikut :

  • Tingginya tuntutan pelayanan di wilayah yang sangat luas, sekota Batam. Dengan karakter yang sangat majemuk. Sementara penyakit maagkronis yang semakin menyerang saya.
  • Adanya “penyakit lama” diantara sesama rekan majelis, bersama kelompok dan penggemar masing-masing. Mungkin mirip-miriplah jemaat di Korintus yang disurati Rasul Paulus (I Kor.1:10-17). Dan ini yang paling membebani saya sebagai gembala yang melayani dan mencintai semuanya. Saya bagaikan “seorang anak gembala di Toraja yang tidak mungkin tersenyum apalagi tertawa apabila kerbau gembalaannya sendiri yang luka-luka baku adu dalam kandang yang sama”. Tetapi, sukacita yang paling besar saya rasakan ketika mereka berdamai.
  • Adanya karakter anggota majelis jemaat yang sangat majemuk, sehingga latar belakang organisasi dan aktivitas yang pernah dan atau sedang digeluti sungguh berpengaruh dalam berjemaat. Ada yang mantan aktivis senat mahasiswa, GMKI, PPGT, ada juga dari kalangan pengusaha, pelaut, PNS dan karyawan/karyawati dalam perusahaan. Keberagaman ini mempengaruhi gaya rapat dan relasi di dalam jemaat. Kadang tidak tahan juga, “pa …ku kua, naladipatumbari, iamo kayu pea’ta’ki pandita to!. Kukilalaipa, tonna ma’uran-uran tongan wai matanna siulu’ku ibu’ Pdt. Marlina tumangi’ umpimpin sidang, kua…. io, tumangi’ duka siana’, pa… iatu tangi’ku tobang tama (= air mata jatuh kedalam). Dan sesungguhnya itu lebih pahit. Karena ketika kembali ke rumah harus memaksa diri dengan muka berseri di depan istri dan anak serta warga jemaat pada umumnya demi menjaga kemurnian rahasia jabatan. Sambil itu berjuang dalam doa pribadi kepada Tuhan untuk menyembuhkan luka-luka hati, menghilangkan beban batin dan menghidupkan roh pengampunan serta menaburkan kasih yang murni dalam keakraban dan persaudaraan. Tak kalah pentingnya juga, kehadiran bapak, ibu pendeta dari pengurus klasis dan sinode yang sudi singgah dipastori untuk bercurhat dan berbagi kasih sayang. Atau teman-teman pendeta yang datang untuk pertukaran pelayanan mimbar, praktek pelayanan, penelitian atau yang sementara study lanjut di Singapore, seperti ibu Indri dan pak Yustinus Punda (Gugun) atau kawan pendeta yang sementara melayani di Kuala Lumpur, yaitu pak Pdt. Rimba, kemudian pak Pdt. Ada juga yang memberikan topangan doa dan komunikasi jarak jauh baik telpon maupun SMS, antara lain: ibu Para’pak, ibu Pdt. Parintak, pak Pdt. Karia, bapak dan ibu Garcia, pak Pdt. Bernadus, pak Pdt. Lambe’ dan pak Acis Tomasoa. Saya betul-betul dalam kondisi yang sangat rapuh tak berdaya. Sampai pernah saya berdoa: ”Tuhan jika memang aku harus pergi, ambillah aku dengan selamat, tetapi jika Engkau masih menambah umurku, sembuhkanlah aku dan berilah hikmat untuk melayaniMu”. Dan terpujilah Tuhan, penyakit maag yang dulunya telah parah, sekarang telah hilang. Haleluya! Allah itu sungguh amat baik.

Melewati tantangan dan kepahitan hidup itu, saya sungguh sadar dan mengakui bahwa : Tuhan telah memakai banyak orang dalam memberikan perhatian dan kasih sayang, baik rekan pendeta, majelis dan jemaat maupun kerukunan dan para sahabat di Batam.

 

III.     PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN JEMAAT BATAM

  1. Pertambahan Anggota dan Pembangunan Gedung Baru

Jemaat Batam, walaupun menghadapi banyak tantangan dan rintangan,kasih Tuhan selalu nyata dalam memelihara jemaat-Nya. Perlu disyukuri bahwa pertumbuhan dan perkembangan jemaat Tuhan di Batam ini sangat nyata. Baik pertambahan anggota maupun semangat untuk membangun gedung gereja dan persekutuan.

  1. Penambahan Dan Pembukaan Tempat Kebaktian Serta Pengadaan Fasilitas Pendukung.

Dalam menyikapi pertumbuhan dan perkembangan jemaat serta mengakomodir kerinduan warga jemaat untuk menerima pelayanan yang maksimal dan terjangkau,maka dalam beberapa kali sidang pleno majelis dalam waktu yang berbeda memutuskan untuk :

  • Menambah jadwal kebaktian hari minggu di Tiban III,yaitu : pukul 06.00 pagi yang diharapkan dapat menolong para pekerja yang akan masuk siang dan pukul 09.00 tetap berjalan seperti biasanya.
  • Kemudian membuka tempat kebaktian pada pukul 16.00 di sektor Batam Centre dengan menumpang di gedung GBKP,di Taman Raya dan tempat kebaktian di sektor Batuaji pada pukul 17.00(jam 5 sore) dengan memakai gedung GSJA.

 Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan jemaat serta bertambahnya tempat kebaktian yang berjauhan, maka tuntutan pelayanan semakin bertambah. Sementara saya sudah sakit-sakitan. Melalui pemeriksaan dari 2 kali diendroscopy yaitu di RS. Otorita Batam dan di RS. Awal Bros Batam, dinyatakan bahwa sudah maag kronis.Umat yang semakin bertambah, saat itu sudah lebih 300 KK yang menyebar di 4 sektor, yaitu :Tiban, Batuaji, Bengkong dan Batam Centre. Dengan melihat realita pelayanan yang ada, sementara saya menggunakan kendaraan bermotor siang dan malam, hujan atau panas dikeramaian kota Batam, maka majelis jemaat memutuskan untuk membeli mobil jemaat. Tim pengadaan mobil jemaat dibentuk,dengan ketua : Pnt. Budi Mardiyanto, Sekretaris : Pnt.Daud Mairi’ dan Bendahara : Dkn.Nely T. Duallo. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, maka keluarlah mobil Avanza baru berwarna hitam walaupun melalui system membayar dengan cicilan.

  1. Pemekaran Jemaat Batam Menjadi Jemaat Batam Dan Jemaat Batam Centre

Adanya pemekaran Jemaat Batam, sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari realita pertumbuhan dan perkembangan jemaat Batam itu sendiri,sebagaimana yang telah disikapi majelis jemaat sehingga melakukan penambahan dan pembukaan tempat kebaktian Batam Centre dan Batuaji. Anggota jemaat yang dulunya sering tidak pergi kegereja atau dengan terpaksa mencari gereja tetangga yang terdekat (ma’pekandappi’) telah berangsur-angsur datang kembali bersekutu. Dengan semakin bertambahnya anggota, sementara situasi dan kondisi di gedung GBKP Taman Raya, kurang mendukung baik relasi pengelola maupun waktu yang kurang tepat. Ditemukanlah GKOI dengan memberikan waktu untuk ibadah Gereja Toraja pada malam hari dengan biaya partisipasi listrik dan kebersihan sebanyak Rp.1.000.000,-/bulan. Pelayanan berjalan terus dan umat semakin bertambah banyak. Maka dalam pertemuan-pertemuan dan diskusi-diskusi mereka, baik anggota maupun majelis disekitar Batam Centre muncul kerinduan, bagaimana kalau menjadi sebuah jemaat yang mandiri. Kerinduan itu disampaikan oleh majelis jemaat dari sektor Batam Centre ke sidang diperluas yang selanjutnya dituangkan dalam rapat kerja tahunan. Hasilnya adalah mengagendakan sebagai salah satu usul jemaat Batam yang akan di bawa dalam Sidang Klasis tanggal 20-22 April 2012 di Hotel Golden View Resort Batam dan sekaligus mengutus BPM untuk menghadiri pertemuan dengan warga jemaat yang berdomisili di sektor Batam Centre, untuk mengenal lebih dekat, sejauh mana kerinduan umat yang sesungguhnya untuk mau mandiri sebagai suatu jemaat.

Pertemuan dilaksanakan di Mediterania, di rumah bapak Simon Marthen dan umat sungguh antusias untuk menghadirinya, dari dalam rumah sampai kehalaman luar. Kami dari unsur BPM yang hadir antara lain  Bpk Pnt. Luther Jansen, Pdt. Daniel Mila Pakau, Pnt. Markus Patongan. Sedangkan tokoh-tokoh warga Gereja Toraja yang berdomisili di Batam Centre hampir semuanya hadir kecuali yang sedang berlayar

Antusiasme umat dalam pertemuan yang kami hadiri itu,disampaikan dan dibahas dalam rapat pleno majelis jemaat Batam tanggal 28 Mei 2012 yang di pimpin oleh Bpk. Pdt Agustinus Pabontong,STh, MM. Hasil keputusan antara lain :

  • Menetapkan bahwa Tempat Kebaktian Batam Centre dinyatakan mandiri untuk mengelola pelayanan dan keuangan mulai tanggal 1 Juli 2012.
  • Tempat Kebaktian Batam Centre,menanggung biaya hidup seorang pendeta yang akan melayani dan mempersiapkan sebagai suatu jemaat yang dewasa, yaitu : Pdt.Daniel Mila Pakau, Th.
  • Membentuk Tim caretaker untuk menangani pelayanan jemaatpersiapan Batam Centre,dengan personalia sebagai berikut : Ketua : Pnt.Budi Mardianto, sekretaris : Pnt.Markus Patongan dan bendahara : Dkn.Albertin Pirade’Sampe.

Kaaretaker ini mempersiapkan segala seuatunya untuk pendewasaan. Ibadah I tanggal 1 Juli 2012 setelah dinyatakan mandiri untuk mengelola pelayanan dan keuangan. BPK membentuk Tim Perlawatan untuk mengetahui layak-tidaknya untuk di mekarkan. Dan hasilnya disampaikan dalam Rapat Kerja Klasis di Jemaat Warakas tanggal 7-8 Desember 2012 dan disahkan bahwa : Jemaat Batam dimekarkan menjadi 2 jemaat yaitu : Jemaat Batam dan Jemaat Batam Centre. Keputusan itu disampaikan kepada BPS. Dan BPS membuatkan sebuah SK yang selanjutnya dibacakan pada ibadah peresmian dan Natal I tanggal 16 desember 2012 di Hotel Planet Holiday oleh ketua BPK, Bpk Pdt Gustaf Adolf Mule,S.Th, atas nama Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja. Demikianlah Gereja Toraja Jemaat Batam Centre berdiri dan bertumbuh yang tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan jemaat Batam yang gedung gerejanya ditahbiskan saat ini. Dan harus diaminkan pula bahwa semuanya itu hanya karena kasih dan pertolongan Tuhan.

 

IV.PENUTUP

Sebagai seorang pendeta Gereja Toraja yang telah melayani di Jemaat Batam dan Batam Centre bahkan Kuala Lumpur ketika masih sebagai Cabang Kebaktian dari Jemaat Batam,berpendapat demikian :

  1. Hadirnya kerukunan Toraja di setiap wilayah atau daerah perantauan Toraja, dalam dan luar negeri sungguh berperan dipakai oleh Tuhan dalam berdirinya jemaat-jemaat gereja Toraja di berbagai tempat. Fakta konkrit bapak Ir. Marthen Tato’ dkk, walaupun aktivis GPIB tetapi karena perannya sebagai pengurus kerukunan Toraja di Batam pada waktu itu, maka kehadiran mereka dipakai Tuhan dalam mendukung berdirinya Jemaat Gereja Toraja di Batam. Demikian juga jemaat Kuala Lumpur, sebagai jemaat pertama Gereja Toraja di luar negeri, berawal dari perkunjungan seorang ibu yang akrab disapa “Mama Aby” ke Batam dan tertarik menyaksikan persekutuan orang Toraja dalam sebuah kebaktian rumah tangga. Setelah kembali ke Kuala Lumpur, beliau menceritakan suasana Batam dalam suatu persekutuan kerukunan orang Toraja di Kuala Lumpur. Ternyata menggugah hati mereka.
  2. Suka duka pelayanan yang telah saya alami di Batam, sungguh saya aminkan sebagai berkat yang Tuhan izinkan untuk menggembleng, memotivasi, mendidik, membaharui dan memurnikan saya sebagai seorang hamba Tuhan. Sehingga pada akhirnya saya mengatakan “ terima kasih kepada semua rekan sekerja : pendeta dan anggota majelis, pengurus kerukunan, seluruh anggota jemaat dan masyarakat Toraja yang ada di Batam atas segala kebersamaan kita selama ini dan maafkan segala kekurangan dan keterbatasan saya. Aku mencintai Batam seutuhnya “. Terpujilah Tuhan yang telah menyertai kita, amin.

 

Salam Kasih

 

Pdt. Daniel Mila Pakau, S.Th & Keluarga

  

Jemaat Batam,

Sebuah Ladang yang Penuh Rasa dan Asa, Siap di Tuai

Prop. Malni F Matasak

 

   Memulai sesuatu di tempat yang baru dengan konteks yang berbeda dari tempat yang sebelumnya tentu tidaklah mudah. Berada di tengah-tengah orang yang terdiri dari latar belakang berbeda, pendidikan, kedudukan, profesi, dan karakter yang berbeda-beda tentu menjadi sebuah tantangan dalam melayani. Kehadiran saya di jemaat Batam menjadi kesempatan yang sangat saya syukuri karena saya bisa menimba banyak pengalaman juga belajar banyak hal untuk semakin memperlengkapi saya menjadi seorang pelayan di tengah-tengah Gereja Toraja. Berada di Jemaat Batam menyadarkan saya bahwa sekolah kehidupan tak pernah tamat. Belajar, belajar dan terus belajar untuk semakin bertumbuh didalam pemahaman yang lebih matang.

   Kota Batam yang menjadi pertemuan tiga negara yaitu Indonesia, Singapura dan Malaysia serta menjadi salah satu kota industri menjadikan Batam sebagai kota tujuan bagi para perantau khususnya anak-anak muda yang ingin mencari pekerjaan. Ada yang datang mencari pekerjaan sebagai pengerja PT dan juga bagi para pelayaran Batam menjadi tempat untuk mencari pekerjaan. Hal ini yang juga kemudian memicu sehingga banyak orang Toraja yang merantau di Batam. Konteks Batam tentu sangat berbeda jauh dengan Konteks di Toraja. Budaya yang sudah mulai global menjadi tantang tersendiri bagi para perantau di Batam dan tentunya juga menjadi sebuah tantangan di dalam Jemaat. Menarik bahwa sekalipun konteks budaya yang berbeda tetapi orang toraja di Batam khususnya anggota Jemaat Batam masih memelihara budaya Toraja. Budaya yang paling kelihatan yaitu menjadikan Gereja sebagai Tongkonan (Pusat pertemuan dan kegiatan). Nilai-nilai Toraja pun masih sangat kental terpelihara misalnya nilai “Siangkaran”. Ini terlihat dalam banyak kegiatan-kegiatan entah itu kegiatan sukacita (rambu Tuka’) maupun dukacita (rambu solo’). Semangat persatuan, gotong royong, kepedulian, nampak dalam kegiatan-kegiatan tersebut sehingga dalam kegiatan tersebut nuansa “katorayaan” selalu bisa dinikmati. Selama menjalani tugas Proponen di jemaat Batam, saya tidak pernah merasa jauh dari Toraja dan keluarga sebab tali kekeluargaan sangat erat terjalin. Saya diterima sebagai anak dan sebagai saudara dengan kata lain saya diterima sebagai bagian dari anggota keluarga. Tak heran jika banyak orang Toraja yang beta berada di Batam karena hal tersebut.

   Segi kemapanan jemaat Batam tidak diragukan lagi sebagai salah satu jemaat dalam Gereja Toraja yang sudah sangat mapan. Tidak hanya dalam pengelolahan administrasi apalagi dalam hal finansial. Profesi sebagaian anggota jemaat yang adalah Pelaut menjadi salah satu penunjang kemapanan jemaat dalam soal finansial ditambah lagi dengan berbagai profesi-profesi yang lainnya seperti pengerja PT, Galangan Kapal, Pegawai, dan sebagainya. Kesadaran memberi persembahan anggota jemaat sudah cukup tinggi hal ini menjadi berkat tersendiri bagi jemaat Batam. Kesadaran memberi persembahan inilah yang akhirnya membuat Jemaat Batam mampu membangun gedung Gereja yang megah dengan segala fasilitas yang mendukung peribadatan jemaat serta membiayai program-program untuk pertumbuhan jemaat. Pengelolaan administrasi pun sudah tertata dengan baik sehingga saya belajar banyak hal yang akhirnya bermanfaat bagi saya untuk juga menata administrasi di jemaat yang sekarang saya layani (Jem. Rondo, Klasis Rantebua. Salah satu Jemaat yang berada di daerah terpencil).

   Satu jemaat tentu tidak bisa lepas  dari yang namanya pergumulan. Pergumulan Jemaat Batam menurut pengamatan saya selama melayani yaitu :

  • Kehadiran anak-anak muda berhadapan dengan kehidupan “pergaulan bebas”. Keberadaan mereka yang jauh dari keluarga dan berada di tempat yang bebas dan berkenalan dengan banyak orang dari suku dan budaya berbeda mudah membuat anak-anak muda terjerumus kedalam pergaulan bebas sehingga tidak jarang yang akhirnya “kebablasan”. Kurangnya skill dan minimnya pengetahuan juga menjadi tantangan bagi anak-anak muda yang datang merantau di Batam sehingga terkadang mereka tidak mampu bersaing dengan perantau yang datang dari tempat lain. Gereja tentu tidak dapat menutup mata terhadap persoalan ini sehingga itulah yang terus di gumuli oleh Jemaat Batam bagaimana agar pelayanan kepada kaum muda ini mendapat perhatian khusus dan dapat menjangkau semua pemuda gereja Toraja yang merantau di Batam. Melibatkan PPGT dalam pelayanan hari minggu dan pelayanan yang lainnya menjadi salah satu cara untuk merangkul anak-anak muda namun karena kesibukan mereka ditempat kerja maupun kampus membuat banyak anak-anak muda yang susah dijangkau.
  • Perkembangan yang semakin maju menuntut manusia juga semakin maju dalam pengetahuan dan kemampuan sehingga jika tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan yang lebih maka akan sulit untuk bersanging dengan orang lain dan susah untuk mendapatkan pekerjaan. Realita ini membuat perantau-perantau Toraja di Batam sering kesulitan mendapat pekerjaan sehingga ada yang harus menganggur dalam waktu yang lama. Hal ini juga menjadi pergumulan jemaat sebab jemaat juga mesti memikirkan kesejahteraan anggota jemaat.
  • Profesi pelaut yang mengharuskan suami meninggalkan keluarga dalam waktu yang cukup lama terkadang membuat keharmonisan keluarga terganggu karena adanya peluang untuk berselingkuh entah itu suami maupun istri. Peranan gereja pun sangat penting disini bagaimana memberi pembinaan bagi keluarga ini agar keluarga tetap harmonis. Suami atau istri tidak berselingkuh dan anak-anak pun tidak merasa kekurangan kasih sayang.
  • Tantangan dari Denominasi yang lain juga menjadi pergumulan jemaat sebab tidak hanya anggota Jemaat tetapi majelis pun sering “jajan di luar”.

Pergumulan-pergumulan ini tentu tidak mudah tetapi Tuhan Yesus sebagai kepala Jemaat tidak akan membiarkan jemaatnya kalah dari pergumulan. Saya tetap optimis bahwa semua pergumulan itu satu persatu dapat diselesaikan jika semua tetap bekerjasama dengan baik, saling memperhatikan, dan saling mendoakan dan hal ini sudah mulai dilakukan di Jemaat Batam.

Waktu yang singkat hanya 6 bulan tetapi menjadi waktu yang sangat berharga dan bermakna untuk saya. Waktu yang Tuhan anugerahkan untuk mengenal Jemaat Batam dan waktu menimbah pengalaman dan belajar banyak hal. Saya menyadari bahwa Tuhan sudah memakai Jemaat Batam menjadi salah satu yang membentuk saya lebih siap sebagai pelayan di Gereja Toraja sehingga  bagi saya tidak ada yang kebetulan tetapi Tuhan sudah mengatur semuanya. Saya bersyukur kepada Tuhan untuk hal itu dan berterima kasih kepada Jemaat Batam karena sudah memberi saya kesempatan untuk melayani sambil belajar. Harapan saya semoga Jemaat Batam berubah semakin lebih baik, tidak hanya gedung gerejanya yang berubah menjadi lebih megah tetapi berubah semakin baik dalam semua aspek demi pertumbuhan iman jemaat sebagaimana motto  para Reformator bahwa “gereja mesti selalu dibaharui untuk menjadi lebih baik berdasarkan firman Allah ( Eklesia Reformata Semper Reformanda Secundum Ferbum Dei). Tuhan menolong kita semua.

Salam Kasih

Prop. Malni F Matasak

 

Invisible Hand:

Kisah Pelayanan di Batam

Oleh: Pnt.  Luther Jansen

 

Tidak pernah hadir dalam mimpi bahwa suatu waktu saya dan keluarga akan datng ke pulau Batam. Mungkin karena pada masa kecil nama pulau ini hampir tidak terdengar. Seingat saya para guru SR (SD) sampai SMP tdk pernah menyebut nama Pulau ini dalam pelajaran ilmu bumi. Adalah Prof.Dr.B.J. Habibie, M.Eng  yg pertama kali menyebut pulau Batam sebagai sebuah pulau yang strategis, jalur Maritim dan dirgantara. Sebab itu beliu bermimpi untuk menjadikan Batam sebagai pusat dunia, setidak-tidaknya sama dengan Singapura, negara moderen dan tetangga terdekat pulau Batam. Atas restu pemerintah RI,  Habibi merancang pembangunannya. Dalam waktu singkat pulau ini berubah total, menjadi pulau moderen yang cantik, indah, dan  memikat hati banyak orang  (etnis di Indonesia dan manca negara) untuk datang dan hidup di Batam.

Dengan berbekal latar belakang pendidikan kemaritiman, saya bersama keluarga dan beberapa  orang Toraja lainnya datang ke sini dan menjadikan Batam sebagai tempat untuk melanjutkan karir. Sejalan dengan berjalannya waktu, jumlah orang Toraja semakin bertambah. Mulailah terbetik dalam hati sebuah kerinduan untuk menghadirkan Pelayanan Gereja Toraja di Batam. Seperti Gayung bersambung, Gereja Toraja Jemaat Jatiwaringin, mempunyai kerinduan yg sama untuk melayani di Batam. Kawinlah kedua kerinduan tersebut. Atas kehendak Tuhan maka dari perkawinan tersebut  tanggal 1 Juli 2001 lahirlah pelayanan Gereja Toraja Jemaat Jatiwaringin di Batam. Bayi yg baru lahir itu diberi nama Gereja Toraja Jemaat Jatiwaringin, Cabang Kebaktian Batam.

Untuk membesarkan bayi itu maka Majelis Gereja mencari tempat untuk beribadah, awalnya di Mess Pelaut di Tiban III, lalu meminjam gedung Gereja GBKP di Sei Panas. Setelah bertumbuh  menjadi dewasa, maka atas dasar keputusan persidangan Klasis Pulau Jawa XI di Cisarua Bogor, di putuskan untuk menjadi jemaat.

Perlu saya utarakan bahwa sejak menjadi Cabang Kebaktian Jemaat Jatiwaringin, telah ada upaya menjajaki lokasi yg strategis untuk membangun gedung gereja. Tetapi upaya maksimal baru dapat dilakukan setelah menjadi Jemaat yg dewasa.  Majelis Gereja segera membentuk pantia pengadaan tanah dan pembangunan gedung gereja, dengan menetapkan saya (Luther Jansen) sebagai ketua Panitia.

Pergumulan berat buat saya. Sejuta Tanya dan keraguan bergejolak dalam hati saya ialah mampukah saya memikul beratnya tanggungjawab yang mulia ini. Apalagi situasi dan kondisi saat itu saya amat buta soal kegerejaan. Tetapi serentak dengan itu saya menjadi kuat karena  percaya bahwa penetapan ini adalah atas kehendak Tuhan. Tuhan, tentu saja telah mempersiapkan sahabat-sabat panitia yg akan bekerja sama dengan tulus, serta menggerakkan warga jemaat dan orang-orang yg terberkati untuk mengambil bahagia.

Ketika tanggungjawab ini telah berada di pundak kami, saya mendapatkan penerangan rohani dan penguatan dari Roh Kudus, “untuk maksud inilah Aku telah membawa kamu ke Batam, yaitu, supaya melalui penyerahan dirimu Aku, Tuhan, menghadirkan pelayanan Gereja Toraja di Pulau Batam.Saya kemudian menghayati panggilan itu bahwa kehadiran saya di Batam bukan hanya untuk mencari makan tetapi juga memberi makna.  Dan lebih dari itu saya sungguh meyakini bahwa ada tangan yang tersembunyi (Invisible Hand), yaitu tangan Tuhan yang terus bekerja melampaui segala akal, kekuatan dan kemampuan saya. Inspirasi ini memberikan semangat kepada saya untuk bekerja keras, dengan tekad yg bulat, agar maksud Tuhan menghadirkan pelayanan Gereja Toraja di Batam dapat terwujujud.

Menindak lanjuti penugasan tersebut Pantia bersama Majelis Gereja Toraja Jemaat Batam mengajukan permohonan kepada Otorita Batam agar berkenan menyediakan dan memberikan  sebidang tanah kepada Gereja Toraja Jemaat Batam, untuk tempat membangun gedung gereja.  Puji Tuhan, pihak Otorita Batam menyetujui permohonan ini dengan menetapkan dan menunjuk lokasi ini sebagai tempat mendirikan rumah ibadah Gereja Toraja Jemaat Batam Saya , panitia dan warga jemaat berterima kasih kepada Otorita Batam atas perhatiannya kepada Gereja Toraja, sekaligus terkagum-kagum karena lokasi yg ditunjuk indah dan sangat strategis. Kendaatipun awalnya seperti tidak masuk akal untuk menjadi lokasi seindah itu, karena keberadaan yang sulit dijangkau  dan stuktur tanah yang sangat miring dan keras. Selain itu lokasi tersebut berseberangan jalan dengan Asrama Pelaut Toraja di wilayah Tiban.

Tantangan berikutnya yg dihadapi   ialah bagaimana membangun fasilitas: gedung gereja, pastori, tempat Sekolah Minggu dan rumah untuk koster. Untuk mewujudkan semuanya ini, maka tentu saja dengan skala prioritas. Prioritas pertama yaitu pematangan lahan yang dilaksakan pada tanggal dan selanjutnya membangun rumah ibadah sederhana (sementara) untuk tempat beribadah dengan segala keterbatasan. Maksudnya supaya dengan demikian, jemaat lebih peka bahwa kita sedang membangun dan itu adalah tugas kita semua. Biaya pematangan lahan dan pembangunan rumah ibadah sederhana selurunya bersumber dari persembahan jemaat.

Selanjutnya Panitia meminta bantuan kepada Ir. Dandung Setiadi untuk membuat rancangan dan gambar bangunan gedung gereja permanen, dengan catatan tetap memiliki corak Tongkonan dengan modifikasi dan sentuhan modern. Panitia sempat memberikan contoh rumah Tongkonan. Setelah sketsa atau rancangan gambar gereja itu selesai, pak Dandung mempresentasikannya di hadapan majelis gereja. Kami sempat terkagum-kagum, dan itulah bentuk gedung gereja yang kita lihat sekarang.

Ada yang bertanya, kok begitu? Gerejanya ‘pokki’, dll. Mengenai  bentuk gedung gereja ini, ketika beliau mempresentasikan, kami konfirmasi ke pak dandung, kenapa seperti itu, pak Dandung memberi penjelasan filosofis dari sudut pandangannya sebagai orang Jawa, bahwa ini gedung gereja dan tempat beribadah, tempat memuja Tuhan. Oleh sebab itu penyembahan kita harusnya hanya tertuju pada satu arah. Ya, waktu itu kami hanya manggut-manggut saja. Tetapi seelah pak Pabontong datang, beliau mengatakan, gedung gereja ini justru mendekati model yang paling asli, seperti rumah tertua yang ditemukan di daerah Simbuang Toraja Barat dan di daerah Bori’. Ya, kami kembali hanya manggut-manggut. Malahan di kemudian hari Pdt. Johana mengatakan ini bentuk hibrida ke Indonesaiaan, mengingat bentuknya juga mirip-mirip rumah minang, salah satu suku melayu bagian dari bangsa Ini. Apapun itu, kita semua bisa memberi penafsiran yang beragam, tetapi satu hal yang saya percaya, apapun bentuk gedungnya, yang penting maksudnya adalah tempat untuk beribadah.

Oleh karena perkembangan dan kemajuan menghendaki, maka pembangunan diharapkan segera dimulai. Sementara keuangan dan motivasi kami juga hampir terkuras seluruhnya oleh pergumulan internal jemaat.  Suatu waktu ketika  Pdt. Soleman Batti datang berkunjung ke Batam. Kesempatan tersebut kami gunakan untuk berdiskusi dengan santai tentang pembangunan dan tantangannya. Pdt. Batti menyampaika: pertama, Jangan pernah berplikir  bahwa untuk memulai pembangunan lebih dahulu harus mengumpulkan dana yg cukup. Ini tidak mungkin, karena dana yg akan dipergunakan untuk membangun masih tersimpan dengan baik dalam katong dan rekening warga jemaat dan donatur. Begitu anda mulai bekerja, dana itu akan mengalir kepada Panitia. Kedua, kalau ada sepuluh orang Toraja berkumpul untuk diminta pendapanya, dapat dipastikan akan lahir 15 pendapat. Sebab itu jangan pernah berharap untuk mendapatkan persetujuan dari semua orang Toraja untuk sebuah kegiatan.  Mendapatkan persetujuan 20%  saja sudah terlalu sulit apalagi 60%. Sebab itu jika ada 4 atau 5 orang telah sepakat, mulailah bekerja, dan buktikan bahwa yang kalian ambil sudah tepat. Percayalah bahwa ketika anda mulai bekerja dan membuktikannya, maka pada waktu itu semua akan datang dan mengambil bahagian, tidak terkecuali mereka yg tadinya kurang sependapat. Ketiga, karena ada motif Toraja, maka ada baiknya memanggil seorang Arsitektur asal Toraja (Ir. Syachrul Tumbo) untuk membenahi rancangannya agar lebih serasih dengan keseluruhan bangunan.

Tiga hal ini memberi motifasi kepada kami untuk terus bekerja. Terbukti bahwa partisipasi dari semua warga jemaat, orang Toraja dan donatur terus berdatangan, dana terus mengalir, sehingga gedung gereja ini dapat diselesaikan tahap demi tahap. Kendati tertatih-tatih, tetapi atas kerja keras dan kerjasama yang baik di antara Panitia, dukungan dan partisipasi seluruh warga gereja, serta sumbangan dari para donatur, maka atas  perkenaan Tuhan maka pembangunan gedung gereja dapat dirampungkan, meskipun di sana-sini masih ada penambahan. Seperti yg kita lihat dan saksikan sekarang ini, gedung ini telah  berdiri dengan megahnya di atas sebuah bukit di Tiban Pulau Batam. Kemegahannya di atas ketinggian bukit Tiban ini jangan dilihat sebagai kemegahan dan kemampuan kami, tetapi kami ingin kita memaknai kemegahannya sebagai kemegahan Tuhan di atas segala-galanya. Dialah yang tertinggi. Bagi Dialah kemuliaan selama-lamanya. Kami hanyalah hamba-Nya yang dengan perkenaan dan kuat-Nya diijinkan untuk “MELAYAKKAN RUMAH BAGINYA”.

Gedung gereja sudah rampung, tetapi dimanakah tempatnya generasi penerus, anak-anak sekolah Minggu. Atas kebutuhan tersebut, Majelis Gereja dan Panitia pembangunan sepakat untuk mendirikan satu unit gedung untuk sekalah Minggu. Lahan ini sebenarnya telah ada sejak tahun 2012, tetapi konsentrasi masih terarah pada pembangunan gedung gereja. Hari ini Gedung Sekolah Minggu yang kami sebut sebagai Pusat Kegiatan Pelayanan Anak Gereja Toraja Jemaat Batam, telah selesai juga dan telah dipergunakan. Ke depan, ada ide dari ibu Pdt. Johana R. Tangirerung,  untuk mendirikan sekolah Play Group dan Taman Kanan-kanak. Ide ini dilatarbelakangi oleh usia produktif dari hampir seluruh anggota jemaat dan pemanfaatan gedung di luar hari Minggu. Sayang jika gedung dan fasilitas ini kalau hanya digunakan satu kali dalam satu Minggu. Ide ini direspons oleh majelis gereja, dan ke depan aka nada tugas baru lagi menanti.

Tentu saja dalam melaksakan penugasan Majelis Gereja, panitia menghdapi tantangan, pergumululan dan rasa putus asa. Tetapi setelah gedung ini berdiri, sukacita dan pujian kepada Tuhan telah menghapus semua kelelahan dan kerisauan di dalam hati. Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat apapun itu, kecil, besar, sama diterima di hadapan Tuhan.

Pengalaman melayani Tuhan di Batam, telah menguatkan saya, bahwa jika kita bekerja dan mealayani Dia dengan tulus, maka Dia juga tidak akan pernah membiarkan kita.

Semua pelayanan ini saya persembahkan hanya bagi Tuhan, yang telah begitu mengasihi saya terlebih telah menyelamatkan hidup saya. Seperti sebuah lirik lagu “Bagai kapal yang tak berhaluan, diomabng-ambingkan ombak dan gelombang, tetapi kini hidupku damai, setelah kutemukan  Kristus juruselamatku.”

Salam Kasih

Pnt. Luther Jansen

Refleksi Atas Ditahbiskannya

Gereja Toraja Jemaat Batam

Oleh : Pnt. Markus Patongan

 

       Tahun ini adalah tahun yang penuh sukacita bagi warga Gereja Toraja Jemaat Batam dan tentunya kami juga sebagai warga Gereja Toraja Jemaat Batam Centre, karena gereja yang megah yang dibangun sejak lama akan ditahbiskan. Saya sebagai warga Gereja Toraja Jemaat Batam Centre (dulu Gereja Toraja Jemaat Batam) tentu juga bergembira karena gereja yang sangat megah ini, sangat besar dan bagus ini akan ditahbiskan oleh BPS Gereja Toraja. Gereja ini adalah gereja yang penuh perjuangan seperti kata Bpk. Pnt. Budi Mardiyanto (Mantan Ketua Panitia Pembangunan) penuh dengan pergumulan. Kita bersama-sama membangunnya dari nol, orang tentu melihatnya dari kemegahan gedung ini saja tapi dibalik itu ada cerita-cerita menarik yang tentunya banyak menguras air mata, tawa  dan tangis, suka dan duka, kesedihan dan kegembiraan dan masih banyak lagi kisah yang lainnya. Itu jugalah yang melandasi kami untuk menuliskan setitik pengalaman kami  selama  bergereja di Gereja Toraja Jemaat Batam, juga Pengalaman kami menjadi panitia pembangunan Gereja Toraja jemaat Batam. Tentunya pengalaman kami itu tidak bisa kami tuliskan satu persatu disini tetapi satu hal yang kami yakini bahwa dibalik cerita tersebut tentunya banyak pengorbanan yang terjadi baik itu pengorbanan materi, tenaga, waktu dan masih banyak lagi pengorbanan lainnya. Bahwa pengorbanan tersebut tentunya tidak akan sia-sia dihadapan Tuhan, Tuhanlah yang memampukan kita untuk menjalani akan kehidupan ini dan Tuhan jualah yang akan menyertai kehidupan kita jika meyerahkan sepenuhnya kedalam tangan Tuhan. Begitu juga dengan pembangunan gedung gereja ini segala pengorbanan yang telah kita berikan akan menjadi sangat berarti di hadirat Tuhan.

       Selayaknya kita sebagai satu jemaat dalam Gereja Toraja kita harus bersyukur dan memuji dia seperti kata pemazmur “Pujilah Tuhan hai jiwaku, pujilah namanya yang kudus hai segenap batinku. Pujilah Tuhan hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikanNya” (Band. Mazmur 103 : 1-2). Kita bersyukur bahwa apa yang kita nanti-nantikan selama ini terwujud pada hari ini dimana Gedung Gereja yang kita banggakan ditahbiskan hari ini. Kami juga sebagai warga Gereja Toraja Jemaat Batam Centre (dulu Gereja Toraja Jemaat Batam) sangat bersyukur dan berbahagia sebab bagaimanapun juga kami merasa bahwa Gedung Gereja ini adalah milik kami juga, kita bersama-sama membangunnya dan sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam kami juga rindu untuk masuk dalam kepanitian pentahbisan gereja ini. Ini adalah kerinduan kami Jemaat Batam Centre untuk dimasukkan dalam kepanitian ini tapi apapun itu  kami juga merasa bersyukur dan berbahagia seperti yang dirasakan oleh saudara-saudara kami Jemaat Batam. Tiada hal yang lebih menggembirakan bagi kami bahwa pada hari yang sangat berbahagia ini bagi warga Gereja Toraja Jemaat Batam dan juga kami warga Gereja Toraja Jemaat Batam Centre bahwa Gereja yang sangat megah dan besar ini akan ditahbiskan, kami berharap bahwa warga Gereja Toraja Jemaat Batam dapat merawatnya dengan baik sehingga Gereja ini betul-betul dapat dijadikan sebagai tempat memuji Tuhan. Akhir kata selamat kepada warga Gereja Toraja Jemaat Batam, selamat memuji Tuhan, Tuhan memberkati.

Batam, 08 April 2015

Pnt. Markus Patongan

 

 

BETAPAPUN KECILNYA SEBUAH MOTIVASI,TETAPI KARENA DIDORONG OLEH KEIKHLASAN, IA DAPAT MENJADISALAH SATU BAHAGIANYANG MENJADIKAN MIMPI MENJADI KENYATAAN.

Oleh: Pdt. Em. Soleman Batti’ M.Th

Dengan segaja saya memilih judul di atas, sebab terdorong oleh motivasi pelayanan, saya bisa berharap di Batam diperlukan kehadiran Gereja Toraja. Tetepi juga dengan sedikit motivasi, saya mendorong semangat dari semua yang termotivasi untuk membuat mimpi ini menjadi kenyataan. Pada suatu kesempatan pada tahun 2001, saya bertemu dengan beberapa anggota Majelis Gereja dari Jemaat Jatiwaringin. Mereka menceriterakan tentang harapan mereka untuk menghadirkan pelayanan Gereja Toraja di Batam. Bahkan dalam pertemuan itu mereka menginformasikan bahwa 7 orang diantara kami yaitu: Pdt. S. Layukallo, ny. D. Dendang, Brigjen D. Toding bersama istri, bapak Dalipang bersama istri, dan Marthen Batong, melakukan  kunjungan pertama.  Mereka bependapat bahwa melihat kondisi yang ada, maka dibutuhkan kehadiran pelayanan Gereja Toraja di Batam. Saya terinspirasi dan memahami upaya yang sedang mereka lakukan dan berharap agar ditindak lanjuti dengan beberapa pertimbangan antara lain:

  1. Batam akan terbangun sebagai kota moderen dimana akan terjadi persaingan untuk meraih kesempatan mrndapatkan kesempatan bekerja, berusaha, mendirikan industri dan usaha perdagangan dan pertokoan.
  2. Perusahaan,industri, perdagangan dan pertokoan, tentu saja membutuhkan tenaga kerja trampil, mulai dari yang tingkat pendidikan paling rendah sampai ke pendidikan paling tinggi.
  3. Kecenderungan kota moderen adalah menciptakan masyakat yang semakin individualistis dan materialistis dan super sibuk, menyebabkan hampir tidak lagi perhatian satu terhadap yang lain. Sementara itu semakin banyak warga gereja Toraja dan anggota Masyarakat Toraja yg direkrut oleh perusahaan. Mayoritas diantaranya adalah mereka yang berumur antara 19-25 tahun.

Sebagai Ketua Umum BPSGT saat itu, beberapa kali saya berkunjung ke Batam, dan secara langsung menyaksikan berbagai kemajuan dan perkembangan, termasuk sejumlah orang etnis Toraja yang memilih bermukim di Batam. Pada kesempatan tersebut saya bertemu dengan, ny. Erlinda Tayo’ (mama’Elin) sek, Budi Mardiyanto, sek,. Luther Jansen, sek,  Mama’ Lande’, sek, Papa’ Nia, sek, Sakeus, sek, para pelaut Toraja di Asrama Pelaut, dan banyak lagi yg tak dapat disebut satu-satu. Memahami kerinduan dan anthusiame, dan semangat mereka yang berkobar-kobar untuk menghadirkan pelayanan GT. di Batam, maka saya memotivasi mereka untuk melakukan pendataan, percakapan dan perkunjungan. Saya mendorong dan memotivasi mereka karena sudah ada fakta bahwa semakin banyak pemuda Toraja datang ke Batam untuk bekerja. Mencermati perkembangan ini saya berpendapat, betapa pentingnya pendampingan dan pemeliharaan rohani terhadap mereka. Percakapan yg kami kembangkan bersama ialah bagaimana mendapatkan lokasi yang sesuai dan memadai untuk membangun gedung gereja.

Dengan upaya bersungguh-sungguh dari Gereja Toraja Jemaat Jatiwaringin dan sambutan yg serius dari warga Batam asal Toraja, maka pada tanggal 1 Juni 2001 diresmikan berdirilah Cabang Kebaktian Jatiwaringin di Batam, dengan nama: Gereja Toraja Jemaat Jatiwaringin Jemaat Batam. Kehadiran cabang kebaktian ini memotivasi warga Batam asal Toraja, yang kini telah menjadi anggota Gereja Toraja semakin menggebu-gebu. Percakapan yang paling serius adalah cara mendapatkan dan menemukan lokasi untuk gedung gereja. Kedua, priorlitas pertama adala sesegera mungkin ditugaskan seorang pendeta untuk melayani, tetapi  bersamaan dengan itu juga anggota MG dan seluruh anggota jemaat perlu mengupayakan berbagai fasilitas yang diperlukan, sebagaimana layaknya satu jemaat yang dewasa. Melalui komunikasi dan percakapan saya selalu menekankan bahwa doa adalah kekuatan utama. Kedua, Tuhan tidak menghendaki agar semua dapat dicapai dengan mudah. Karena cara yang mudah tidak akan menghasilkan kesan yang mendalam bahwa betapa pentingnya kebersamaan, kerja keras dan partisipasi setiap warga jemaat. Kebersamaan, kerja keras dan partisipasi menghasilkan sukacita dan kebanggaan di dalam Tuhan. Ketiga, memperkokoh iman kita, karena memberi kekuatan dan keyakinan bahwa orang yang bekerja dengan tulus dan meggantungkan pengharapannya kepada Tuhan, pasti menuai keberhausilan yang memuliakan Tuhan, dan membahagiakan sesama. Bagi Tuhan tidak harus  sekali jadi, tetapi Tuhan bekerja dan menyediakan kebutuhan peyanan-Nya melalui umat-Nya. Umat Tuhan yang beriman selalu memberikan sesuai dengan kadar pemberian Kristus. Bukan itu saja, bahkan Tuhan akan mendatangkan dan mengutus banyak orang  membantu, dan memberikan persembahan.

Oleh karena Majelis Gereja, sangat mendesak agar segera diutus seorang pendeta ke Batam, maka BPSGT mengutus bapak Pdt. Robertus Pakan, S. Th, untuk melayani dan membina Gereja Toraja Jemaat Batam. Pelayanan beliau bersama dengan anggota Majis Gereja yang lain telah mendorong pertumbuhan dan perkembangan jemaat. Jemaat Batam berkembang dengan cepat, bahkan sekarang ini telah menjadi 3 Jemaat yang dewasa. Bukan itu saja, Batam mengembangkan pelayan ke Kualalumpur bersiuama dengan BPK Pulau Jawa, dan menghadirkan pelayanan Gereja Toraja di sana dlm kerjasama dengan Gereja Presbyterial Malaysia (GPM).

Tuhan adalah Tuhan atas sejarah, terus bekerja dalam sejarah, menuntun, memelihara dan memberikan pertumbuhan. Bila kita mengambil waktu sejenak untuk merenungkan perjalan Injil dari Pedalaman Sulawesi, Toraja, maka sesungguhnya yang kita temukan adalah agar orang Toraja menjadi berkat kapan saja dan dimana saja. Kedua, agar misi dan pelayanan Gereja Toraja terus bertahan, karena didukung oleh anggota Gereja Toraja yang mersa terberkati di dan dari bebagai belahan dunia. Tetapi juga satu hal penting yaitu, agar Toraja, alamnya dan budayanya, tetap lestari meskipun telah berkembang menjadi masyakat moderen terutama karena pengaruh kemajuan ilmu dan teknologi.

Rantepao, Kalaulu,  10 April 2015

Pdt. Soleman Batti

 

BERJALAN DALAM SABAR MENANGGUNG

Oleh : Marten Tato

Kenapa  gereja Toraja harus ada di  Batam  sedangkan  masyarakat  Toraja  yang ada  di Batam  sudah nyaman berjemaat diberbagai denominasi gereja?   Bagaimana  kita  mau  membangun  gereja Toraja  di dalam  anggota  Jemaat  yang  sudah  bergereja?

Hal  ini  menjadi  pertanyaan  penolakan dari saya saat  pertemuan  dengan  saudara  dari Jemaat  Jatiwaringin  Jakarta  pada  pertemuan di  rumah  keluarga   Bpk. Luther  Yansen tanggal 25 Pebruari  tahun 2001. Dan menjadi bahan perenungan saya ketika Bpk. Pdt. S.Layuk Allo mengatakan bahwa bergereja dimanapun tidak masalah,  yang  penting masyarakat  Toraja  yang  ada  di  Batam  terlayani   dengan  baik,  dan  perlu  diketahui bahwa pelayanan akan lebih baik kalau didalamnya  ada  ikatan  emosional dan  ikatan budaya.

 

Dilematis  bagi  saya pribadi sebagai anggota  majelis gereja  GPIB Immanuel Batam  yang dipercaya sebagai koordinator  sektor pelayanan  ditempat yang akan dibentuk Jemaat  Gereja Toraja,  disisi  lain saya  ketua IKKT.  Namun demikian hati kecil saya mengatakan  bahwa rumpunmu dari Toraja. Maka pada hari itu juga keluarlah  Surat Keputusan IKKT  No.003/IKKT/SK/Pgrs-GT/III/01   yang  isinya  pembentukan Carateker untuk  pendirian Gereja Toraja di Batam.  Carateker  yang  dibentuk saat itu :

Ketua              : Ir. Marthen Senneng Parura

Sekretaris       : Marthen Tandirura, ST.

Bendahara      : Cius Rita, ST.

Awal   pelayanan   dan   penatalayanan  di   Gereja  Toraja  Jemaat   Batam   banyak  mengalami suka duka yang  kesemuanya  boleh  terjadi  sebagai  seleksi  alam  untuk  membentuk jemaat yang ada. Demikian  halnya dengan  pelayan  ( Penatua/ Diaken)  kurang   maksimal   dalam  pelayanan   karena   minimnya  pengetahuan   dalam   hal pelayanan,   organisasi   dan   tata  gereja,   sehingga  sering  terjadi  riak-riak  dalam pelayanan  mereka.  Hal  ini   berlangsung  hingga  tahun  2007.  Suka  dukadan  pahit getirnya pelayanan di Gereja Toraja Jemaat Batam telah menempa dan  membentuk karakter  pelayanan yang mandiri.

Tempat   ibadah  merupakan  persoalan  yang  dihadapi  oleh  Gereja  Toraja  Jemaat Batam sejak  tahun  2001 sampai  Juni 2005. Periode  tahun  tersebut  Gereja  Toraja  Jemaat  Batam  bergereja  di  Mess  Pelaut Tiban III  dan  di gedung  gereja GKPS  Sei Panas.  Pada situasi  seperti  ini  pelayanan dan ibadah  berlangsung  dengan  penuh  kepasrahan  dan ketulusan  serta   berharap  nantinya  akan  memiliki gedung  gereja tersendiri.

Pelan tapi pasti akhirnya diperoleh lahan dari BIDA yang lokasinya di Tiban III tempat Gereja Toraja Jemaat Batam berdiri megah  saat  ini.  Setelah lahan ini kita dapatkan,  tentunya kita  akan  segera  membangun gedung gereja  impian Jemaat Batam untuk menjadi  tempat  yang  permanen.   Hal  yang  menarik  dan  kurang diketahui adalah bahwa lahan itu berada dalam komplek perumahan sehingga sulit untuk mendapatkan  izin  prinsip saat itu,  hal  ini  sepele  tapi  mengganjal  dalam  pembangunan  gedung gereja. Melalui  Bpk. Ir. Horman Pudinaung peta lokasi diubah  bahwa  bagian  barat  dan  selatan  dari  lahan  itu  diperuntukkan untuk penghijauan sehingga lahan untuk pendirian   gedung   gereja  terpisah  dari  perumahan.   Perubahan  petainilah  yang memungkinkan izin prinsip didapat.

 

Pembangunan  fisik  gedung  gereja  tidak  berjalan mulus, ada  pro  dan kontra.  Ada  yang  menginginkan   gereja  akan  dibangun  permanen  kalau  uang  sudah  terkumpul semua,  ada  yang  mengatakan  bangun  saja  secara  perlahan  dan  ada  yang  diam  bahkan  yang   lebih parah  ada  yang  hanya  mengkritisi  saja tanpa berbuat.  Dalam menyikapi  kondisi   pro  dan  kontra  ini  biasanya  kami  sharing  untuk  memberikan  kekuatan pada Bpk. Pnt. Luther Yansen sebagai  ketua pembangunan gedung  gereja  Toraja  jemaat  Batam.  Didalam  perbincangan  sering  Bpk. Luther Yansen  ingin  menyerah,  tapi  kami  berikan masukan bahwa Tuhan menghendaki lewat kepanitian pembangunan yang  Bpk. Luther  Yansen pimpin  agar pembangunan  gedung  gereja  tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Jangan ragu dan  tetaplah  berjalan,    karena   tidak   semua  orang  mendapat  kesempatan seperti ini.  Orang   yang  diberi  kesempatan  dalam rencana dan rancangan Tuhan adalah orang yang  punya  komitmen, ketulusan hati dan tanggung jawab dalam melayani Dia.

Mendapatkan  lahan  ini  dan  dapat  mendirikan   gedung  gereja  di  atasnya  adalah  mujizat,  karena  gereja Toraja  Jemaat  Batam  dibentuk  di  kaki  bukit  dan  Gedung  gerejanya dibangun  di atas  bukit.  Gereja  Toraja  Jemaat  Batam diingatkan  bahwa  Allah  dipuji dan dimuliakan ditempat yang tinggi. Dari tempat yang tinggi berdirinya gedung  gereja  ingin  mengatakan bahwa rumah Allah itu  Agung  dan  mulia dimana anak-anak-Nya akan beribadah, menyembah dan memuliakan Dia dalam keagungan-Nya.

Yakobus  1:12  mengatakan  :  “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji,  ia akan menerima mahkota kehidupan.”

 

Kesabaran   menanggung  adalah  mempertahankan   keberanian,  belajar   melawan keinginan  menyerah.  Hal  ini  telah  nyata  dan  sudah  terjadi  dalam  Gereja Toraja  Jemaat  Batam  lewat  pelayanan  dan  penatalayan,  pembangunan  gereja  secara rohani dan pembangunan secara pisik  Gedung gereja yang megah ini.

 

Akhirnya segala  puji, hormat  dan  kemuliaan  bagi Allah atas  rencana  dan  rancangan-Nya  melalui pelayanan  dan  kesaksian  Gereja  Toraja  Jemaat  Batam di  bumi Lancang Kuning ini, kiranya lewat pelayanan dan kesaksian Gereja Toraja Jemaat Batam  membawa berkat dalam roda kehidupan di kota Batam ini.

Tuhan memberkati.

Salam hormat,

Marten Tato

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TUMBUH   BERSAMA   DALAM    INDAHNYA   KEBERSAMAAN

Oleh : YORIE  PARURA

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang Kuasa sehingga tanpa terasa kini kita memasuki Tahun yang ke 14 Gereja Toraja yang ada di Batam (sejak 2001) . Mengawali tulisan ini dalam Refleksi Pelayanan di Gereja Toraja, maka saya ingin membawa kita kembali dulu kebelakang karena saya melihat bahwa didalamnya ada kaintanya antara IKKT, Yayasan dan Gereja Toraja. Saya hanya ingin memberikan apa yang saya tahu, lihat, dengar, lakukan dan alami yang mungkin ada gunanya bagi pembaca, tetapi saya mohon maaf kepada yang tidak membutuhkan informasi ini. Dulu tidak terbanyang sama sekali kalau Gereja Toraja akan ada dan berkembang pesat di Batam dimana saat itu orang-orang Toraja masing-masing sudah beribadah dan terdaftar di Gereja-Gereja yang ada a.l.: di GPIB, KIBAID, GBI dll. Ada yang terdaftar resmi sebagai Anggota Jemaat bahkan Majelis tetapi ada pula yang hanya sekedar datang beribadah tanpa menjadi Anggota Jemaat sehingga secara otomatis mempunyai hubungan-hubungan emosinal dan rasa memiliki. Tidak ada sedikitpun bayangan jika suatu saat Gereja Toraja akan ada di Batam,

Menyadari bahwa kita adalah perantau yang jauh dari tanah kelahiran sehingga kita merindukan suatu wadah yang bisa mempertemukan dan mempersatukan kita. Yang ada adalah IKKT Batam. Tahun 2000 sekitar April  Pengurus  IKKT  mengadakan Paskah yang dihadiri oleh Bpk. Yusuf Domi. Didalam sambutan beliau mengatakan bahwa tetap jaga Motto kita, “MISA  KADA  DIPOTUO  PANTAN  KADA  DIPOMATE”. Hal yang sangat saya ingat sampai saat ini adalah supaya membuat 1(satu) Yayasan agar bisa ajukan Lahan untuk mendirikan Gedung  Serbaguna demi kepentingan masyarakat Toraja, Maka dibentuklah “YAYASAN  TONGKONAN  BANGSA”. Untuk diketahui  bahwa Yayasan  Tongkonan  Bangsa  adalah milik Masyarakat  Toraja di Batam, Tidak lama setelah itu maka permohonan lahan Yayasan Tongkonan Bangsa disetujui dan diberikan Tanah sekitar 1 ha, dengan Lokasi dibelakang Legenda dekat Duta Mas.

 Pada  17  Agustus 2000, terjadilah penggantian Periode Pengurus IKKT  dengan susunan  :

Pelindung                   : Mayjen Purn Yusuf Domi. Capt Hamka, Luther                                        Jansen, Yulius Baka.

Ketua Umum              : Ir. Marthen  Tato

Sekretaris Umum       : Dra. Yorie  Parura

Bendahara                  : Bertha  Kapang

Pertemuan bulananpun mulai diaktifkan kembali dari rumah ke rumah. Rasa keakraban dan saling pedulipun mulai muncul dan indahnya kebersamaan mulai tercipta. Karena seringnya pertemuan maka mulailah keinginan muncul adanya Gereja Toraja bahkan saudara kita Alm.Marthen Pasorong sering mengatakan bahwa “Melo liumo kedenni tu Gereja Toraja (Ungkapan asli). Ternyata apa yg diinginkan orang Batam juga dirasakan oleh Orang-orangtua kita di Jakarta yang ternyata ingin datang di Batam untuk melakukan penjajakan pembukaan tempat Ibadah, bahkan ingin bertemu dengan Bpk. Yusuf Domi untuk mengajukan permohonan lahan tempat Ibadah, tetapi yang sebenarnya Lahan sudah ada tinggal  penyelesaian UWTO yang nunggak 1 tahun 2 bulan. Dalam perjalanan kepengurusan Yayasan sepertinya jalan ditempat dan tidak ada khabar berhubung ada beberapa yg ditunjuk sebagai pendiri  pindah tempat kerja keluar dari Batam, sehingga diadakanlah Rapat Yayasan pada tanggal 10 Sept’00,untuk mengisi tempat yang ditingggalkan.

Pada Awal 2001 Pengurus IKKT mengadakan Rapat Pengurus terlebih dahulu di Rumah Kel. Bpl.Luther Jansen, sebelum utusan dari Jakarta datang agar apa yang kita bicarakan nanti terarah dan jelas yaitu keinginan membuka tempat Ibadah di Batam. Yang hadir dalam Rapat a.l: Bp.Marthen Tato (Ketua), Bp.Luther Jansen, Ibu Bertha K.Jansen (Bendahara),Yorie Parura(Sekretaris), Marthen S.Parura, Marthen Tandirura, Alm.Bpk. Marthen Pasorong, Pither Linting, Ibu Hoslinda Tayo, Ibu Agustina Lebang, Bp.Tandi Payuk, Cius Rita,.Dari sekian yang hadir dalam rapat tersebut ada yang setuju, ada yang setuju tetapi tidak mau pindah dari GPIB (Anggota rangkap) ada juga yang sangat menyedihkan dan membuat kita agak kesal  karena menolak dengan alasan sudah ada GPIB tetapi akhirnya diambil keputusan mengikuti suara terbanyak untuk tetap membuka tempat kebaktian Gereja Toraja di Batam, itulah yang akan dibicarakan pada pertemuan Tanggal. 25  Februari  2001 di MESS Pelaut Toraja Tiban III untuk tempat mengadakan pertemuan. Ternyata gayung bersambut karena yang datang adalah merupakan Utusan dari Jemaat Jatiwaringin ingin melakukan penjajakan akan kemungkinan membuka Cabang Kebaktian di Batam. Konsumsi, transport , uang saku dan oleh2 ditanggung oleh Pengurus IKKT sebagai bukti kepedulian  terhadap kebutuhan Rohani Anggotanya dan memprakarsarsai berdirinya Gereja Toraja di Batam.

Pada tanggal 24 Februari  2001 rombongan dari Jemaat Jatiwaringin Jakarta datang dan malamnya langsung mengadakan pertemuan dengan Pengurus  IKKT yang dihadiri  oleh : Marthen Tato (Ketua), Luther Jansen, Bertha K.Jansen (Bendahara), Yorie Parura (Sekretaris), Marthen S.Parura, Marthen Tandirura, Alm.Bpk. Marthen Pasorong, Pither Linting, Ibu Hoslinda Tayo, Ibu Agustina Lebang, Yuli Toding, Alfrida Toding, Bp.Tandi Payuk, Cius Rita, Darius B, Tomy Lebang, Piet Parassa, Daniel Tarik Allo, Raindun Wijaya, Bara Thomas, David Pareang serta beberapa perwakilan Mess Toraja Tiban III. Dalam pertemuan tersebut disepakati untuk menindaklanjuti tempat pelaksanaan “ Ibadah sementara”. Dalam pertemuan itu juga dibicarakan tentang  Tanah  Yayasan yang mempunyai tunggakan UWTO sekitar 18.500.000,- karena ada rencana untuk mendirikan tempat Ibadah di lahan tersebut. Maka disepakati menyelesaikan pembayaran UWTO akhirnya atas kerelaan masing-masing maka terkumpul  Les sesuai Pengakuan hari itu Rp. 23.100.000,- tetapi Realisasinya hanya Rp. 18.500.00.000,- sudah termasuk yang dari Bp.Daniel Toding, Bp.Marthen Batong,Bp.D.S. Dalipang dan YP.Dendang…Ada daftar

Tanggal. 25 Februari ’01 Jam 10.00 setelah Ibadah Minggu diadakan Rapat bersama Pengurus  dan Anggota  IKKT  Batam  yang dirangkaikan dengan Pertemuan Bulanan IKKT di Mess Pelaut Tiban III. Dan disepakati bahwa sementara kita akan menyelesaikan pembayaran UWTO(Lunas 3/3’01) dan ada Tambahan Pinjaman dari Jatiwaringin sekitar Rp. 20.000.000,– karena rencana Awal kita akan mendirikan Gereja di tanah Yayasan, tetapi seiring waktu tidak jadi karena itu hanya suatu kerugian bagi Gereja karena tidak akan pernah memiliki tanah itu karena milik Yayasan milik semua gol dan agama yg ada didalamnya.

Dari Mess rencana pulang tetapi sekitar jam 16.00 dipanggil kembali ke rumah Bpk. Luther Jansen untuk selanjutnya ke rumah Bpk. Yusuf  Domi. Adapun yang hadir dalam pertemuan itu adalah Dari Jakarta : Pdt.Layuk Allo, YS.Dalipang, Daniel Toding, Ny.Datu Dendang, Bpk.Marthen Batong, Ibu Dorce Dalipang, Ny.Daniel Toding (7 org) Dari Batam :  Marthen Tato, Luther Jansen, Bertha Kapang, Yorie Parura, Marthen S.Parura, Marthen Tandirura, Hoslinda Tayo, Agustina Lebang, Cius Rita dan Yuliana Datik Simbolon (10 orang).

Pengurus  IKKT  Batam segera  mengadakan Rapat membentuk  CARETAKER dalam  mempersiapkan pembukaan  Tempat  Ibadah  di  Batam, dengan Susunan  sbb  :

Ketua               : Ir. Marthen Seneng Parura

Sekretaris        : Marthen Tandirura, ST

Bendahara      : Cius Rita, ST

Berhubung CARETAKER sudah ada maka semua tugas diserahkan kepada CARATEKER sesuai yang tertuang dalam SK.No.003/IKKT/SK/Pgrs-GT/III/’01  untuk menindak lanjuti pembukaan tempat Ibadah Gereja Toraja di Batam dan  berkoordinasi dengan Jemaat  Jatiwaringin sebagai Jemaat Induk. Ini pulalah yang diminta oleh Jatiwaringin terlebih dahulu supaya membentuk Organisasi (CARAKETER) sebagai dasar.

Mulai saat itu pulalah Tugas Pengurus  IKKT  untuk mengantar sampai di pintu Gerbang, kini CARETAKER dan Jemaatlah yang akan melanjutkannya. Suatu kebahagiaan ikut dalam 1 (satu) misi Mulia sebagai satu Pelayanan.…..( Adakah hubungannya  dengan  I Korintus 3:5-11) . Selamat kepada Gereja Toraja yg kini mulai bertumbuh di Bumi Lancang Kuning.  Puji syukur  Tuhan jika  sudah mengijinkan dan melibatkan kami ikut didalamnya sampai terbentuknya CARETAKER, walaupun banyak tantangan dan rintangan  yang  justru  datang  dari  dalam, tetapi  semua  dapat  teratasi  dengan  baik berkat  campur  tangan  Tuhan bahkan  Tuhan  sudah memakainya sebagai  Majelis  Gereja  maupun  sebagai  Pengurus  OIG,  Bagi Tuhan tak ada yang Mustahil .

Tanggal  30  Juni 2001  Pendeta Layuk Allo, bersama Rombongan tiba dibatam untuk mengadakan Ibadah Perdana bertempat di Mess Pelaut Tiban III pada tanggal 1 Juli 2001 Jam. 10 pagi –selesai, kini Gereja Toraja di Batam resmi didirikan.

Bagi para pembaca, jika saya uraikan  panjang  lebar itu dimaksudkan agar informasinya tidak terputus bahkan bukan  untuk  “dikenal”   supaya dapat dijadikan bahan masukan dan pertimbangan, teristimewa buat anak-anak masa  depan Gereja agar dapat  mengetahui  apa  yang  pernah  terjadi  dulu  yang kini tinggal  cerita  dan  sejarah  . TERPUJILAH  TUHAN.

Gereja Toraja sudah berdiri sebagai Cabang dari Jemaat Jatiwaringin jakarta. Tugas kita selanjutnya adalah bagaimana agar Pelayanan dapat berjalan dengan baik maka Carataker yang ditunjuk oleh IKKT yang melanjutkan tugasnya sebagai Pengurus Gereja. Memulai sesuatu yang baru tidak sama dengan membalikkan telapak tangan, namun harus dengan kesabaran dan melibatkan Tuhan didalamnya sehingga mulai kebaktian Hari Minggu rutin dilaksanakan di Mess Toraja, Ibadah Rumah tangga juga mulai,  Mulai mensaring yg akan diangkat senbagai MG dan tlp  kesediaan menjadi Majelis namun sering menelan ludah pahit karena ada yg menolak dengan alasan belum siap . Berkat kegigihan dan pertolongan Tuhan maka ada sekitar 15 org yg sudah bersedia. Untuk sementara Pelayan Firman dan memimpin Ibadah baik ibadah minggu maupun KRT, Ibadah Syukur keluarga jika ada pun dilayani dengan berkoordinasi dan bekerjasama dengan Pendeta2 yg ada dilingkungan IKKT  a.l. Pdt.Alexander Bollo(Kibaid), Pdt. Maury (GKII), Pdt.Kelly (GPIB), Pdt. Daniel (GPDI), Marthen Tato (GPIB), Marthen Seneng P, Sakius S. Lambanan, Darius BD. Walaupun kita belum mempunyai Pendeta jemaat tetapi tidaklah sulit dalam mencari Pelayan karena Hubungan yg sangat bagus dengan mereka bahkan mereka sangat mendukung akan keberadaan Gereja kita. Boleh dikata indahnya kebersamaan sangat nampak dan baik  bahkan memang  sudah  tercipta hubungan itu dari  IKKT Batam  sejak  kepengurusan  Marthen Tato sebagai Ketua dkk. Begitu juga dengan hubungan satu sama lain dilingkungan IKKT mulai terjalin baik sehingga “KASANGTORAYAAN” kita semakin nampak dan tidak terlalu sulit  tentang  Anggota  Jemaat  karena  tanpa diajakpun  sudah mulai datang satu per satu, walaupun masih terdaftar di  Gereja lain tetapi sudah mulai ganti-gantian bahkan ada yang jadi Anggota rangkap, menerima Ibadah KRT walaupun masih di Gereja lain tu suatu pertanda ke hal yang lebih baik. Proses berjalan terus dan Persaudaraan semakin akrab dan persekutuan semakin indah, kian hari yang mengikuti Ibadah semakin meningkat .

Tanggal. 26 Agustus’01 diadakan Peneguhan Majelis dan Baptisan Anak oleh Pdt. Layuk Allo yang didahului oleh Pembinaan di Gedung JAMSOSTEK Nagoya. Waktu berjalan dan berjalan terus maka Karya Tuhan semakin nyata dengan mengirim Hamba-hambanya menjadi Pendeta Jemaat secara bergantian. Baptisan, Sidi, pemberkatan nikah disesuaikan dengan program. Perayaan Natal, Rabu Abu, Kamis putih, Jumat Agung,Sabtu sunyi dan Paskah bahkan Ibadah Pengucapan Syukur diadakan tiap tahun di Agustus. Jemaat semakin bertumbuh, pelayanan semakin meningkat. Rumah ibadah mulai dipikirkan karena tempat di Mess toraja tidak bisa menampung lagi jumlah jemaat yang mengikuti Ibadah, akhirnya pindah ke GKPS Sie Panas (pinjam Gedung) Ibadah jam 5 sore, Akhirnya kembali ke Tiban menempati Gedung yg semi permanen.

            Tanggal 13 Agustus  2005 tadinya Cabang didewasakan menjadi Jemaat Batam dari Jemaat Jatiwaringin dan merupakan sukacita tanpa efek negatif, karena masing-masing menyadari bahwa inilah proses “IMAN  JEMAAT BERTUMBUH” tanpa menimbulkan riak dan sakit hati bahwa kami dilepas n dibuang, karena adanya  kesadaran Iman. Tuhan semakin berkarya dengan berbagai usaha yang dilakukan akhirnya mendapatkan tanah didepan Mess Toraja tempat Ibadah I diadakan. Tuhan memberkati Jemaat dan pekerjaan pembangunanpun dimulai walau semi permanen, akhirnya pindah kembali ke Tiban beribadah, tempatnya Gereja Tuhan berdiri kokoh sekarang .

Jemaat tidak dapat dibendung lagi, kian hari kian bertambah dan bukan hanya orang Toraja lagi tetapi sudah mulai masuk Gereja/ Suku lain a.l. Batak, Singapore, Jawa, Manado, Padang dll. Akhirnya mulai dipikirkan untuk membuka tempat-tempat ibadah yaitu Batu Aji, Batam Centre dengan Ibadah Sore, mengingat sudah ada Anggota Jemaat yg ketempat lain oleh karena Jarak yg begitu jauh sehingga ada istilah lebih besar ongkos dari pada persembahan. Dan satu hal yang perlu disyukuri jika BATAM  CENTRE  sudah didewasakan (istilah saya), dan itu suatu pertumbuhan IMAN sebagai hasil dari perjuangan selama ini untuk Mandiri. Hanya saja catatan untuk BPK dan BPS  agar  jangan  MENDEWASAKAN  JEMAAT           yg lain kalau  belum  memenuhi  semua  persyaratan  agar  tidak  terjadi gesekan-gesekan yg gampang menimbulkan kesalahpahaman.

Disamping itu juga yang tidak mengenal Tuhan datang menyerahkan diri, ada yg sudah mualaf kembali kepada Yesus, seiring itupula pembangunan Gedung gereja juga berjalan terus berganti periode, berganti panitia akhirnya selesai seperti yang kita saksikan bersama. Tidak disangkal pula bahwa diselingi riak dan gelombang yang seharusnya tidak perlu terjadi seandainya bisa saling memahami, menerima dan mengakui satu sama lain. Tetapi mungkin hal ini juga terjadi karena kita ada di lingkungan Gereja suku sehingga kadang sengaja atau tidak sifat “KATORAYAAN” tetap melekat bahwa “Inang akuri akunna’, Apao ikonna, Aku siami Akunna..dst..dst…” serta tidak terlepas pula bahwa tidak ada yang betul-betul di Tua kan karena mungkin faktor umur  yang rata-rata saat itu masih tergolong rata-rata muda bahkan tidak semua juga besar di Toraja dan terlepas dari itu semua banyak yang baru mulai masuk Organisasi Gereja termasuk Saya, sehingga kadang kita sulit membedakan mana yang aturan organisasi dan mana yang bukan yang serta merta tiba saat tiba akal. Padahal aturan organisasi sangat jelas, tidak memahami Tugas masing-masing, tidak transparansi baik teknik maupun non teknik, misalnya tugas MG dan BPM, Tugas BPM adalah mengamankan dan menjalankan Keputusan Rapat Pleno MG tetapi kadang dan yg sering terjadi adalah terbalik (ini hanya contoh, ) Pendeta yang pernah melayani adalah : Pdt. Robertus Pakan, Pdt. Marlina Pasarrin,    Pdt. Daniel Mila Pakau,  Pdt. A.L.Pabontong.  Dinamika yang terjadi periode diatas sampai sekarangsemuanya hampir sama hanya muncul dalam wujud yang berbeda-beda, semua ada suka dan duka, canda  tawa tetapi juga ada  tangis dan air mata, ada puja dan puji tetapi juga ada dengki dan marah, Rapat yang hingga larut malam sehingga saya mendapat gelar “ kala-kalain Anggota Dewan” tetapi sekarang tidak seperti itu lagi.

            Pemimpin dalam Gereja tidak perlu  Otoriter, tranparansi, netral dan penuh Kasih. Begitu juga dengan MG, tetapi saya yakin dan percaya bahwa tujuan sebenarnya adalah untuk kebaikan Organisasi bukan untuk perpecahan Jemaat, hanya kadang kita salah mengartikan dan menyikapinya dengan baik, dan jika kita menyikapi dengan baik maka pasti semuanya akan menjadi baik. Hal itu hanya boleh tercipta jika kita mau menciptakannya bersama, dengan menjauhkan segala ke Egoisan kita, ke Akuan kita dan memahami dan menerima teristimewa dalam pengambilan keputusan nakua Toraya disipa’kada-kadai yanna sia disitimbang-timbangi melo, taekna kita manna tu tongan, taek duka tama’kada MISA bang, saba’ taek namelo”, mungkin didepan kita, orang pura-pura baik tapi dibelakang kita sebenarnya tidak, lantas apa ARTINYAA???? Kalau sudah begitu.!!!!!!……(yang sering diungkapkan org-org tua dikampung).

Hampir 1,5 tahun terakhir kebersamaan dan kesadaran Jemaat semakin tinggi, bukan karena siapa Pendetanya tetapi pemahaman dan kesadaran dari Anggota Jemaat sendiri bahwa kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi, 14 tahun  kita  berjuang  bersama  membangun  suatu  ‘K E B E R S A M A A N ‘, bukankah penthabisan Gedung  Gereja  yang akan kita laksanakan pada Tanggal 24-25 adalah juga hasil kebersamaan kita, mari kita pelihara kebersamaan  itu  dengan KASIH  karena  yang Utama dan Pertama adalah “KASIH”, apakah yang dapat mengalahkan Kasih itu ??? Mari kita bergandengan tangan, menata gereja kita, menjadi jemaat yang misioner.

            GEREJA kita sudah BERDIRI KOKOH  sebuah  RUMAH  TUHAN di Bukit yang Indah yang akan ditahbiskan tanggal 24-25 April’15, Mari kita  mengucap SYUKUR kepada YESUS KRISTUS dan bergandengan  tangan dalam KASIH , “BERSATU KITA TEGUH, BERCERAI KITA RUNTUH”

I N D A H N Y A    K E B E R S A M A A N    I T U

Bukit Hijau Tiban /gt/yp/3/4’15

 

BAB IV.

PENUTUP

Gereja Tuhan telah berdiri megah di atas bukit Tiban III. Kemegahannya bukan kemegahan kita tetapi mau mengekspresikan kemegahan Tuhan. Di balik kemegahan juga ada banyak kisah pengalaman kasih yang telah terbagi. Ada dalam wujud air mata suka cita maupun kekecewaaan bahkan luka-luka pelayanan. Tetapi semua itu mau mengajarkan kepada kita satu sosok yang telah jauh berkorban lebih banyak dan tak terpikirkan oleh akal pikiran kita. DIA tidak saja meneteskan air mata tetapi darah. DIA tidak saja mengorbankan waktu dan apa yang ada pada-Nya tetapi DIA juga mengorbankan seluruh hidup-Nya buat kiita semua.

Maka sepatutnyalah kita agungkan dan muliakan nama-Nya.Gedung gereja ini hanyalah bagian kecil dari upaya mengagungkan nama-Nya. Sebagai tempat untuk menghadirkan kehendak-Nya. Harapan kita semua, kiranya menjadi tempat untuk menceritakan kemuliaan dan keagungan Tuhan selama-lamanya.

Tim sejarah bersyukur buku ini telah selesai. Dengan segala kerendahan hati kami persembahkan semua isi buku ini untuk kita semua. Terima kasih kepada Majelis Jemaat yang telah mempercayakan penulisan buku ini. Kiranya menjadi bahan refleksi ketika kita membacanya untuk terus memahami segala kehendak-Nya dalam kerangka  rencana Tuhan.

 

Salam Tim Buku

 

Catatan kaki

[1]Hal ikhwal atau cikal bakal yang dituliskan di bawah ini adalah rangkuman dari berbagai sumber , diantaranya sumber lisan dari pelaku sejarah seperti Pdt. Em. Semuel Layuk Allo, beberapa majelis gereja Jatiwaringin antara lain bpk. Daniel Toding, Bpk. D.S. Dalipang, Bpk. Samuel Parantean; pelaku sejarah dari Batam seperti: Bpk. Luther Jansen, Bpk. Marthen Tandirura, Bpk. Jonly;Ibu Marlina Pasarrin (laporan Proponen); tulisan singkat yang dikirim Pdt. Roberth PAkan; Laporan dan catatan Bendahara Jemaat terkait dengan transport, transaksi Bank, dlsb.

[2]Beberapa hari setelah pertemuan itu tepatnya pada tanggal 02 Maret 2001, Bpk. Marthen Tandirura, pergi membayar UWTO yang tertunggak sejumlah delapan belas juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah, via Bank Mandiri.

[3]Informasi dari Pdt. Em. Semuel Layuk Allo.

[4]SK No. 003/IKKT/SK/Pgrs-GT/III/01

[5]Sumber: Laporan buku Bendahara

[6]Sarjana Teologi itu adalah Ibu Marlina Pasarrin, STh, alumni dari STT Rantepao.Ibu inilah yang kemudian menjadi proponen dan diurapi menjadi Pendeta di Batam. Mengenai nama-nama Majelis pertama yang diteguhkan dapat dilihat di bagain lain buku ini.

[7]Nama-nama majelis pertama dan baptisan pertama ada di bagian lain buku ini.

[8]Lihat misalnya, tanggal berdirinya Gereja Toraja yang kemudian diperingati menjadi HUT Gereja Toraja adalah ketika baptisan I di Makale, pada tanggal 25 Maret.

[9]Nama-nama dan susunan Panitia Pembangunan dapat dilihat di bagian lain buku ini.Panitia ini bekerja terus, bahkan hingga berakhirnya periode kemajelisan, kepanitian pembangunan terus bekerja sampai selesainya gedung gereja semi permanen, yang dikenal dengan gereja kodim.

[10]Informasi dari Pdt. Robertus Pakan dalam suratnya kepada Tim, “Sedikit Catatan yang Saya Ketahui Tentang Jemaat Batam”

[11]Berdasarkan refleksi dalam buku ini.

© 2016-2018 Gereja Toraja Batam

dibuat oleh pesonaweb.com